Lalu, apa yang bikin masyarakat jadi lebih hati-hati? Tekanan inflasi tampaknya menjadi salah satu faktor kuncinya. Inflasi tahunan tercatat berkisar di 4,76%, didorong oleh kenaikan harga-harga mulai dari pangan, energi rumah tangga, listrik, sampai kebutuhan perawatan diri. Efeknya jelas terasa di kantong.
Tekanan ini pun membentuk ulang perilaku keuangan. Sejak awal tahun, ada kecenderungan menarik dana dari tabungan atau deposito untuk dialihkan ke aset-aset yang dianggap aman, seperti emas dan perhiasan. Pilihan ini mencerminkan preferensi yang kuat terhadap aset defensif ketika ketidakpastian masih tinggi.
Meski ada pelemahan, ada sisi positif yang perlu dicatat. Posisi IKK yang masih jauh di atas level 100 menunjukkan sentimen konsumen Indonesia secara fundamental tetap kokoh. Hanya saja, melemahnya ekspektasi ini tidak bisa dianggap sepele. Konsumsi rumah tangga, bagaimanapun, adalah penopang utama perekonomian kita, menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto.
Untuk itu, Novani menekankan pentingnya langkah-langkah kebijakan yang tepat sasaran.
"Prioritas harus difokuskan pada pengendalian inflasi, terutama untuk pangan dan energi. Menstabilkan harga bahan pokok jelang Lebaran dan mendukung penciptaan lapangan kerja adalah kunci," paparnya.
Jika kedua hal itu berhasil diatasi, optimisme konsumen diprediksi bisa pulih. Pada akhirnya, daya beli masyarakat yang kuat akan tetap menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global.
Artikel Terkait
Direktur Persija Risih dengan Sindiran APBD FC Jelang Musim Baru
RUU Perlindungan PRT Disempurnakan, Atur Jaminan BPJS dan Penyelesaian Konflik
Dua Tewas dalam Kecelakaan Motor Tabrak Truk Mogok di Jalur Puncak Dini Hari
Kapolda Metro Jaya Luncurkan Forum Kemitraan untuk Cegah Perundungan di Sekolah