Mojtaba Khamenei naik ke puncak kekuasaan di Iran. Pergantian dari ayahnya, mendiang Ayatullah Ali Khamenei, ini bukan sekadar rotasi biasa. Bagi banyak pengamat, ini adalah pesan yang gamblang: faksi garis keras di tubuh pemerintahan masih memegang kendali yang sangat kuat.
Dan tentu saja, ini bukan skenario yang diharapkan Washington atau Tel Aviv. Presiden AS Donald Trump langsung bersuara, menolak dan menyebut Mojtaba sebagai figur yang tak bisa diterima. Reaksinya yang terbuka itu, bagi banyak pihak, menandakan jalan menuju perdamaian di Timur Tengah justru makin curam dan berliku.
Menurut sejumlah saksi, situasi ini mengindikasikan Teheran mungkin tak punya niat buru-buru untuk gencatan senjata atau duduk di meja perundingan. Bagi dunia yang sudah lelah dengan ketegangan, kabar ini seperti menambah bara dalam sekam.
Dampaknya ke pasar global hampir instan. Harga minyak mentah melesat, menembus US$110 per barel. Ketegangan yang memuncak, ditambah ancaman terhadap jalur pelayaran vital seperti Selat Hormuz, langsung menggoyang pasar.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Jangan anggap ini cuma gejolak jauh di sana. Bagi kita yang masih sangat bergantung pada impor energi, setiap goncangan di Timur Tengah hampir pasti terasa getarnya di dalam negeri. Efeknya langsung, nyata, dan bisa menyakitkan.
Harapan bahwa perang akan mereda seiring pergantian pemimpin di Iran, kini tampaknya harus dikubur. Elite Iran rupanya memilih untuk melanjutkan garis perlawanan yang sama, meski tekanan internasional kian besar. Mereka tak bergeming.
Artikel Terkait
Kemendagri Gelar Workshop untuk Perkuat Manajemen Talenta ASN
Staf KBRI Berusaha Selamatkan WNI yang Lompat ke Danau di Selangor, Korban Ditemukan Meninggal
Wakil Ketua Komisi IX DPR Desak BGN Evaluasi Program Makan Bergizi Usai Viral Ikan Lele Mentah di SMA Pamekasan
Polres Salatiga Amankan 49 Motor dalam Razia Antisipasi Kriminalitas Ramadan