Begitu pernyataan resmi IRGC yang dikutip sejumlah media internasional, Senin malam lalu. Pengumuman ini jelas menambah panasnya tensi di kawasan yang sudah memanas.
Memang, sejak serangan udara skala besar AS-Israel pada 28 Februari, Selat Hormuz praktis dikunci rapat. Iran tak tinggal diam, mereka membalas dengan hujan rudal dan drone ke target-target di Israel serta negara Teluk yang menampung aset militer AS. Imbasnya, lalu lintas kapal di selat itu nyaris berhenti total.
Padahal, selat sempit ini bukan jalur sembarangan. Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan ekspor gas alam cair global biasanya melewati titik ini. Data dari Kpler lewat platform MarineTraffic menunjukkan betapa dramatisnya penurunannya: lalu lintas kapal tanker anjlok hingga 90 persen hanya dalam seminggu.
Akibatnya bisa ditebak. Harga minyak melonjak drastis, tembus di atas angka US$ 100 per barel. Perang yang berkecamuk ini bukan cuma memacetkan Selat Hormuz, tapi juga memperlambat produksi minyak di Timur Tengah secara keseluruhan. Situasinya makin ruwet, dan tawaran dari Teheran ini ibarat menambah bensin dalam api yang sudah membara.
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Hujan Ringan-Sedang Dominasi Sepekan, Waspada Hujan Lebat di 13 Wilayah
Trump Klaim Perang dengan Iran Hampir Tuntas, Tehran Bantah
KPK Tangkap Bupati Rejang Lebong, Sita Ratusan Juta dalam OTT
Jadwal Salat 21 Ramadan 1447 H dan Tanda-Tanda Lailatul Qadar