Polri Luncurkan Tujuh Pusat Studi Baru, Perkuat Kebijakan Berbasis Riset

- Selasa, 10 Maret 2026 | 23:35 WIB
Polri Luncurkan Tujuh Pusat Studi Baru, Perkuat Kebijakan Berbasis Riset

Di kompleks STIK/PTIK Lemdiklat Polri, Jakarta Selatan, suasana Selasa (10/3) pagi terasa berbeda. Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo baru saja memimpin peluncuran tujuh pusat studi kepolisian baru. Acara yang juga dihadiri oleh perwakilan dari Jepang dan Rusia ini menandai babak baru bagi Polri.

Kini, total sudah ada enam belas pusat studi yang beroperasi di bawah naungan STIK/PTIK. Ini bukan sekadar tambahan jumlah. Menurut Dedi, langkah ini adalah sinyal kuat bahwa Polri sedang menggeser paradigma kerjanya. Mereka tak mau lagi cuma mengandalkan tindakan taktis di lapangan.

"Diharapkan dengan peresmian 16 Pusat Studi Kepolisian ini dengan bidang keilmuan masing-masing, pusat studi kepolisian ini menjadi wadah riset dan diskusi akademik terkait pengembangan ilmu kepolisian di Indonesia," jelas Dedi.

Intinya, Polri ingin serius mendalami riset. Mereka bertekad beralih ke pendekatan yang berbasis bukti ilmiah atau Evidence Based Policy. Setiap kebijakan dan langkah operasional ke depan diharapkan lahir dari kajian yang mendalam, bukan sekadar insting.

Nah, untuk mewujudkan itu, kolaborasi dengan dunia kampus jadi kunci. Strategi yang mereka sebut pentahelix ini menempatkan akademisi sebagai mitra strategis. Dan upaya ini sudah menjalar ke berbagai daerah.

Hingga saat ini, setidaknya delapan kampus di luar Jakarta sudah punya Pusat Studi Kepolisian. Di antaranya Universitas Syiah Kuala di Aceh, Universitas Negeri Sebelas Maret di Solo, sampai Universitas Pattimura di Ambon. Tujuannya jelas: menjaring perspektif lokal yang beragam agar analisis keamanan lebih tajam dan kontekstual.

"Selain itu, masih terdapat 69 PTN/PTS yang tengah memasuki tahap penandatanganan kerja sama (PKS) yang membentang dari Aceh hingga Papua," tambah Dedi.

Dengan kata lain, ekspansi intelektual Polri sedang berlangsung masif. Mereka berharap budaya ilmiah bisa meresap ke dalam institusi. Sehingga setiap keputusan penting nantinya sudah melalui uji publik dan kajian akademis yang ketat.

Lalu, apa saja tujuh pusat studi yang baru diluncurkan hari ini? Bidangnya cukup spesifik. Mulai dari Pusat Studi Teknologi Kepolisian yang dipimpin Aslog Kapolri Irjen Suwondo Nainggolan, sampai Pusat Studi Intelijen Keamanan pimpinan Irjen Achmad Kartiko.

Ada juga yang fokus pada isu sosial, seperti Pusat Studi Perlindungan Perempuan dan Anak di bawah Brigjen Nurul Azizah, serta Pusat Studi Keadilan Restoratif yang dipimpin Andrea H. Poeloengan. Lengkap sudah. Langkah ini menunjukkan Polri ingin menjangkau segala aspek, dari teknologi tinggi hingga persoalan kemanusiaan di tingkat akar rumput.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar