Peringatan dari Qatar
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi, dalam wawancara dengan Financial Times akhir pekan lalu memberikan peringatan serius. Dia bilang, perang ini bisa berakibat fatal pada pasokan energi.
Menurutnya, ada kemungkinan semua negara produsen di Teluk Persia terpaksa menghentikan produksi dalam beberapa minggu ke depan. Jika skenario terburuk itu terjadi, harga minyak bisa melesat hingga 150 dolar AS per barel. Qatar sendiri, sebagai pemasok gas alam cair terbesar dunia, sempat menghentikan ekspor selama beberapa hari pasca perang meletus.
Serangan ke Kilang Bahrain
Konflik semakin nyata dampaknya setelah Iran melancarkan serangan ke kilang minyak di Bahrain. Kompleks kilang besar Maameer dilaporkan mengalami kerusakan. Perusahaan minyak negara setempat, Bapco Energies, sampai harus menyatakan kondisi 'force majeure' untuk pengiriman energinya. Pernyataan itu membebaskan mereka dari kewajiban kontrak akibat keadaan di luar kendali.
Meski produsen minyak terkecil di kawasan Teluk, Bahrain adalah bagian dari aliansi OPEC . Gangguan di sana menambah daftar masalah pasokan.
Gas Eropa Juga Ikut Naik
Bukan cuma minyak. Harga gas alam di Eropa ikut meroket. Di bursa Amsterdam, harga acuan TTF melonjak 30 persen, sempat mencapai 69,70 euro per MWh sebelum akhirnya turun ke 61,80 euro. Itu masih 16% lebih tinggi dari harga Jumat lalu.
Lonjakan ini adalah yang tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina lebih dari empat tahun yang lalu. Perang di Timur Tengah benar-benar mengacaukan pasar energi global.
Respons Negara-Negara G7
Merespon krisis ini, para menteri keuangan negara-negara industri G7 dikabarkan akan segera bertemu. Agenda utamanya adalah membahas kemungkinan melepas cadangan minyak strategis secara terkoordinasi lewat Badan Energi Internasional (IEA). Sumber pemerintah Prancis mengonfirmasi rencana ini, yang sebelumnya juga dilaporkan oleh Financial Times. Konon, setidaknya tiga negara anggota termasuk AS sudah mendukung langkah tersebut.
Cuitan Khas Trump
Sementara dunia khawatir, Presiden AS Donald Trump punya pandangan lain. Melalui akun Truth Social-nya, dia menyebut kenaikan harga energi ini hanyalah "pengorbanan kecil".
"Harga minyak sekarang ini, yang akan kembali turun dengan cepat setelah ancaman nuklir Iran dihilangkan. Ini adalah harga yang sangat kecil untuk keamanan dan perdamaian Amerika Serikat serta dunia," tulisnya.
Dan seperti biasa, dia menutup dengan kalimat khas: "Hanya orang bodoh yang melihatnya berbeda!"
Artikel Terkait
Netanyahu Tegaskan Serangan ke Iran Belum Berakhir, Berseberangan dengan Pernyataan Trump
Wali Kota Jakbar Tegaskan Penyegelan Permanen Atlas Padel, Bangunan Dinilai Tak Layak Izin
Wamen PUPR Dorong Perusahaan Tambang di Sultra Beralih ke Sektor Pariwisata
Megawati Sampaikan Ucapan Selamat Langsung ke Dubes Iran untuk Pemimpin Baru