“Pilihannya bukan lagi tentang siapa kandidat terbaik,” jelas Costello kepada Al Jazeera, “melainkan tentang apa yang harus dilakukan untuk melindungi kedaulatan Iran dari agresi luar.”
Sentimen itu terasa di Teheran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan dengan lantang bahwa masa depan negara mereka akan ditentukan oleh rakyatnya sendiri, bukan oleh kekuatan asing.
Sementara retorika memanas, dampak nyata sudah terasa di pasar global. Perang yang kini melibatkan Hizbullah di Lebanon telah mendorong harga minyak mentah melonjak. Penutupan Selat Hormuz adalah pukulan telak bagi pasokan energi dunia.
Meski demikian, Trump bersikukuh. Dalam wawancara dengan CBS News, dia menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari Iran dan mengklaim kekuatan militer mereka sudah lumpuh. Perang, katanya, berjalan lebih cepat dari perkiraan.
Tapi di Washington sendiri, suara kritis mulai terdengar. Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Jake Auchincloss, mempertanyakan visi dan akhir dari semua ini.
“Presiden mengganti diktator teroris berusia 86 tahun dengan diktator teroris berusia 56 tahun. Apa rencana sebenarnya?” tulisnya.
Kekhawatirannya jelas: apakah perubahan kepemimpinan ini justru akan memacu program nuklir Iran lebih cepat lagi? Pertanyaan itu masih menggantung, sementara ketegangan terus meningkat.
Artikel Terkait
DPR Akan Minta Penjelasan TNI Soal Surat Telegram Siaga 1
Kemenag DKI Ingatkan Utang Jatuh Tempo Lebih Prioritas daripada Zakat Fitrah
Polisi Tangkap Suami Diduga Tega Bunuh Istri di Depok
KIP Perintahkan UGM Buka Dokumen Akademik Jokowi, Bon Jowi Sebagian Dikabulkan