Perjalanan kemudian berlanjut ke Museum Perkebunan Indonesia. Di sini, narasi yang dibangun terasa lebih spesifik. Museum ini mengangkat sejarah panjang perkebunan di Indonesia, dengan fokus pada kekayaan komoditas khas Sumatera Utara. Fadli terlihat antusias menyimak penjelasan mengenai berbagai tanaman dan produk perkebunan yang dipamerkan.
“Di sini kita bisa melihat bagaimana sejarah perkebunan tumbuh sejak masa liberalisasi ekonomi pada tahun 1870. Berbagai komoditas seperti tebu, tembakau, dan tanaman perkebunan lainnya menjadi produk unggulan yang diekspor ke berbagai wilayah dunia, terutama ke Eropa,”
pungkasnya.
Dia menambahkan, jejak sejarah itu justru menunjukkan sebuah ironi. Kekayaan alam Nusantara waktu itu menjadi penopang kemakmuran negeri penjajah. Nah, melalui penyajian koleksi dan narasi yang tepat, museum bisa berubah fungsi. Dari sekadar gudang penyimpanan, menjadi ruang refleksi dan pembelajaran yang powerful bagi publik.
Kunjungan ini didampingi sejumlah pejabat terkait. Di antaranya, Sekretaris Ditjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Wawan Yogaswara, Direktur Warisan Budaya I Made Dharma Suteja, serta para kepala balai pelestarian dari wilayah Aceh dan Medan.
Pada intinya, langkah ini adalah bagian dari upaya pemerintah yang lebih besar. Mereka ingin museum tak lagi berkesan kaku dan berdebu. Dengan penguatan tata pamer, sentuhan teknologi, dan pengayaan cerita, diharapkan museum bisa menjelma jadi ruang publik yang aktif. Tempat di mana kesadaran akan sejarah dan kebudayaan bangsa benar-benar bisa tumbuh.
Artikel Terkait
Menteri PU Dukung Penyelidikan Proyek Cipta Karya di Sumut dan DKI
DPR Desak Penanganan Terpadu Kasus Investasi Bodong Koperasi BLN yang Rugikan 44 Ribu Korban
Chief Officer Kapal Divonis Seumur Hidup atas Kasus 1,9 Ton Sabu
BNPB Jalankan Modifikasi Cuaca di Jabodetabek Antisipasi Dampak Bibit Siklon