Selepas itu, duel benar-benar berubah jadi pertarungan stamina dan mental. Reli-reli panjang mewarnai sisa pertandingan, menguras tenaga keduanya. An terus mengejar, bahkan sempat memperkecil jarak jadi 19-20. Poin-poin akhir selalu jadi momen genting. Tapi kali ini, Wang Zhi Yi tampil lebih dingin. Sebuah pukulan akhir yang tepat memastikan kemenangannya 21-19, dan mengantarkannya pada gelar All England perdananya.
Kemenangan ini punya makna khusus. Ini adalah kemenangan pertama Wang atas An di sebuah partai final, setelah sembilan kali gagal. Rekor pertemuan mereka pun sedikit membaik: kini menjadi lima kemenangan untuk Wang dan 18 untuk An. Empat kemenangan sebelumnya diraih di semifinal Kejuaraan Asia 2022, babak kedua China Masters 2023, serta final Denmark Open dan BWF World Tour Finals di 2024. Setelah itu, deretan kekalahan datang bertubi, termasuk di final All England tahun lalu yang berlangsung tiga gim sengit.
Jadi, kemenangan di Birmingham ini bukan sekadar gelar. Ini adalah pembalasan, sekaligus pernyataan bahwa era dominasi mutlak An Se-young bisa ditantang. Wang Zhi Yi membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan akhirnya membuahkan hasil di panggung paling bergengsi sekalipun.
Artikel Terkait
DPRD Sumsel Rencanakan Pengadaan Meja Biliar Senilai Rp 486 Juta, Tuai Sorotan
AS Bom Telak Fasilitas Bawah Tanah Iran, Fokus Lumpuhkan Produksi Rudal
Polri dan Wartawan Bagikan 1.500 Takjil di Sekitar Mabes, Sampaikan Pesan Mudik
Mensos Gus Ipul Dorong Pemberdayaan Ekonomi dan Pendidikan di Pasuruan