Amerika Siagakan 10.000 Pasukan di Karibia, Ketegangan dengan Venezuela Meningkat
Amerika Serikat dikabarkan telah menyiagakan sekitar 10.000 personel militer, terdiri dari pasukan Marinir dan Angkatan Laut, di kawasan Laut Karibia. Pasukan ini disiagakan baik di atas kapal perang maupun di Puerto Rico, menyusul meningkatnya ketegangan dengan Venezuela.
Operasi Militer AS dan Tuduhan Perdagangan Narkoba
Dalam beberapa pekan terakhir, militer AS telah melancarkan serangan berulang kali untuk menghancurkan kapal-kapal di lepas pantai Venezuela. Otoritas AS menyatakan bahwa operasi ini merupakan bagian dari upaya memerangi kejahatan transnasional dan perdagangan narkoba yang diduga melibatkan Venezuela.
Bahkan, The New York Times melaporkan bahwa pemerintahan Trump diam-diam mengizinkan badan intelijen CIA untuk melakukan misi rahasia di Venezuela, termasuk serangan mematikan di dalam negeri.
Pernyataan Trump dan Kecaman Venezuela
Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa militernya tidak mengesampingkan kemungkinan serangan ke wilayah Venezuela sebagai bagian dari upaya memerangi narkoba. Ia menyatakan bahwa perairan lepas pantai Venezuela telah "terkendali dengan baik".
Pemerintah Venezuela mengecam keras pernyataan Trump tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan pejabat lainnya dengan tegas membantah semua tuduhan yang dilayangkan AS. Mereka menilai isu narkoba hanyalah alasan yang dicari-cari oleh Presiden Trump untuk menyerang Venezuela.
Pengerahan Kekuatan Militer oleh Kedua Belah Pihak
Eskalasi ketegangan ini telah memicu pengerahan kekuatan militer dari kedua negara. Pada Agustus lalu, militer AS telah mengerahkan armada yang signifikan ke Karibia, termasuk beberapa kapal perang seperti kapal destroyer, kapal serbu amfibi, dan kapal selam nuklir, yang didukung oleh hampir 4.500 marinir.
Menanggapi hal ini, Presiden Maduro juga mengerahkan 25.000 personel militer untuk menjaga perbatasan Venezuela, termasuk di laut, guna mengantisipasi segala kemungkinan di tengah situasi yang semakin memanas.
Artikel Terkait
Kremlin Perketat Keamanan Putin di Tengah Kekhawatiran Kudeta dan Gelombang Pembunuhan Tokoh Militer
Persetujuan Publik terhadap Trump Anjlok ke 34 Persen, Terendah Sepanjang Masa Jabatan Kedua
Menlu Iran Akan ke Moskow Bahas Gencatan Senjata di Tengah Ketegangan dengan AS
Perang Iran Kuras Persediaan Rudal AS, Picu Kekhawatiran Kerentanan Jangka Pendek