Menurutnya, BRIN dan perguruan tinggi harus turun tangan melalui riset berkelanjutan untuk mengatasi hal ini.
“Kondisi saat ini, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), mengandung patahan atau menir berada di angka 25-40 persen. Sementara, beras dari negara-negara produsen beras lainnya di Asia Tenggara, kadar broken-nya telah berada di angka 5 persen,”
paparnya.
“Jika kondisi ini tak segera diatasi, pasar beras global akan sangat sulit ditembus,”
tambah Alex dengan nada prihatin.
Implikasinya jelas. Jika pasar global tak bisa dibuka, maka program swasembada pangan yang merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto bisa mandek. Pemerintah dianggap harus punya jawaban konkret.
“Saat ini, bapak presiden telah mencanangkan peningkatan produksi, baik itu melalui ekstensifikasi maupun intensifikasi pertanian. Sementara, daya serap dalam negeri, tidak bertambah signifikan. Mau diapakan stok melimpah itu nantinya. Ini tantangan yang harus segera dijawab,”
imbuhnya menekankan.
Jadi, persoalannya bukan cuma soal bisa produksi banyak. Tapi juga tentang bagaimana menjualnya ke dunia dengan kualitas yang bersaing. Itulah pekerjaan rumah berikutnya.
Artikel Terkait
Tiga Tewas dalam Kecelakaan Pikap Penuh Penumpang di Kebumen
Nadiem Bantah Tuduhan Pemerkayaan Rp6 Triliun dari SPT Pajak di Sidang Chromebook
Wali Kota Solo Pastikan Pengawasan Ketat untuk Program Makan Bergizi Gratis
Terdakwa Kasus Mutilasi Tiara Ungkap Motif: Emosi yang Menumpuk