Di sisi lain, konflik di lapangan ternyata sudah bergulir lebih dulu. Garda Revolusi Iran mengklaim telah menargetkan sebuah kapal tanker minyak di perairan Teluk. Menurut mereka, ini bagian dari pertikaian yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel.
Lewat kantor berita Tasnim, IRGC menyebut kapal tanker bernama Prima menjadi sasaran serangan drone peledak pada Sabtu pagi. Alasannya? Kapal itu disebut mengabaikan peringatan berulang dari angkatan laut mereka soal larangan lalu lintas dan kondisi keamanan yang berbahaya di sekitar Selat Hormuz.
Memang, selat ini bukan sembarang jalur. Sekitar seperlima minyak dunia harus melewati titik sempit ini. Ketegangan di sini melonjak drastis belakangan, seiring konflik Iran dengan aliansi AS-Israel yang memicu serangkaian serangan balasan. Ancaman terhadap kapal dan infrastruktur energi kini jadi pemandangan harian.
Jadi, situasinya seperti ini: di satu pihak, AS bersiap mengirim pengawalan. Di pihak lain, Iran sudah menyambut dengan klaim serangan dan peringatan keras. Laut di sekitar Hormuz bukan cuma panas oleh terik matahari, tapi juga oleh ancaman yang kian nyata.
Artikel Terkait
Menteri LHK Serahkan SK Perhutanan Sosial untuk 411 KK di Lombok
Iran Serang Pangkalan AS di Bahrain sebagai Balasan atas Serangan ke Pabrik Desalinasi Qeshm
Pertamina Patra Niaga Berdayakan 695 Perempuan di 49 Titik
Trump Buka Pintu Negosiasi dengan Kuba, tapi Ancaman Militer Masih Menggantung