Suasana di Teheran tebal dengan ketegangan. Namun, di tengah dentuman yang masih mungkin terdengar, sebuah pesan justru mengejutkan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian, melalui siaran televisi pemerintah pada Sabtu, secara terbuka meminta maaf kepada negara-negara tetangganya di Teluk. Ini langkah yang jarang terjadi, terlebih di saat konflik dengan aliansi AS dan Israel justru sedang memanas.
Dalam pidato yang direkam sebelumnya itu, Pezeshkian berjanji pemerintahannya akan berupaya meredakan ketegangan. Pernyataannya datang setelah seminggu penuh pertukaran serangan rudal dan drone yang melintasi batas-batas negara.
Menurut sejumlah saksi, langkah ini tak lepas dari keputusan dewan kepemimpinan sementara. Dewan itu sendiri dibentuk setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Mereka dikabarkan telah menyetujui kebijakan baru soal cara Iran merespons ancaman militer.
Intinya sederhana: pasukan Iran dilarang menargetkan negara tetangga. Kecuali, serangan terhadap Iran benar-benar diluncurkan langsung dari wilayah negara tersebut. Salinan pidato yang dipublikasikan Press TV itu jelas menyebut hal itu. Tujuannya, kata mereka, untuk mencegah api konflik menjalar ke seluruh kawasan Teluk.
Artikel Terkait
Komnas Perempuan Apresiasi Respons Cepat Menpora, Soroti Pentingnya Perlindungan Korban Kekerasan Seksual di Olahraga
Kapolda Riau Gelar Safari Ramadan dan Buka Puasa Bersama di Polres Pelalawan
Yusril: Delpedro Cs Bisa Ajukan Praperadilan untuk Ganti Rugi
NasDem Panaskan Mesin Politik di Jabar, Target Tiga Besar pada 2029