Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR dari PAN, punya peringatan keras buat pemerintah. Ia mendesak Ditjen Migas dan Pertamina untuk mewaspadai persaingan ketat di pasar minyak global. Ancaman utamanya? Negara-negara raksasa yang juga bergantung pada Timur Tengah.
Menurut Eddy, posisi Indonesia sebenarnya tak terlalu buruk. "Kita cuma impor 20 persen kebutuhan migas dari sana," katanya, Sabtu lalu. Sisa pasokan datang dari Nigeria, Angola, Australia, bahkan Brazil. Artinya, saat pasokan dari Selat Hormuz macet, Indonesia punya opsi lain.
Tapi di situlah masalahnya.
Di sisi lain, negara-negara seperti China dan India punya volume impor yang jauh lebih gila. China butuh sekitar 11 juta barel per hari. India menyusul di angka 6 juta. Sementara Jepang dan Korea Selatan masing-masing di kisaran 2 hingga 2,5 juta barel.
"Nah, persentase ketergantungan mereka ke Timur Tengah jauh lebih tinggi," jelas Eddy. China dan India sekitar 55-60 persen. Jepang dan Korsel bahkan bisa 80-90 persen.
Kalau Selat Hormuz benar-benar ditutup, apa yang terjadi? Negara-negara besar itu bakal kalang kabut. Mereka akan berburu pasokan dari sumber lain sumber yang selama ini juga jadi pemasok kita.
"Dengan kata lain, Indonesia bisa 'berebut' pasokan minyak dan gasnya dengan negara-negara importir raksasa lainnya,"
Artikel Terkait
Trump Ancam Serang Iran Lebih Keras dan Perluas Target Penghancuran
Polri Tanam Jagung Serentak di Seluruh Indonesia untuk Dukung Ketahanan Pangan
Anggota DPR Apresiasi Putusan Bebas Hukuman Mati untuk ABK Kasus Sabu 2 Ton
Kapolri Ajak Masyarakat Sumsel Bersatu Dukung Upaya Diplomasi Perdamaian dan Swasembada