"Karena sering hujan ya, konsumen pada nggak dateng," keluhnya saat ditemui di lokasi dagangnya, suatu Sabtu di pertengahan Ramadan. Menurut Yusra, pola pembeli tahun ini berubah total. Biasanya, awal Ramadan pasti ramai. Lalu agak sepi di pertengahan, sebelum ramai lagi di akhir pekan.
Namun begitu, tahun ini pola itu tak berlaku. Hujan sore yang kerap mengguyur disebut-sebut jadi biang keladi. "Untuk sekarang ini belum bisa (capai penjualan porsi besar). Paling baru 20 sampai 35 porsi," terangnya. Ia menambahkan, bahkan akhir pekan pun sekarang harus pasrah pada cuaca. "Itu pun kalau cuaca bagus ya, nggak hujan."
Keluhan serupa datang dari Upi, penjual asinan. Ia membenarkan bahwa slogan soal ramainya Benhil tak selalu sesuai fakta di lapangan. Pengalamannya tahun ini mirip dengan Yusra: sepi dan sepi.
Jadi, meski dentang 'perang' takjil masih terdengar, bagi sebagian pedagang, yang terjadi lebih mirip pertempuran menghadapi cuaca dan menunggu pembeli yang tak kunjung datang. Suasana Ramadan di bazar ternyata punya dua sisi yang sangat berbeda.
Artikel Terkait
Presiden Iran Kecam AS-Israel dalam Telepon dengan Putin, Desak Dukungan Internasional
Malut United Tantang PSM Makassar yang Terpuruk di BRI Liga 1
Kapolri Pimpin Aksi Tanam Jagung Nasional, Targetkan Produksi Hampir 2 Juta Ton
Perang dengan Iran Rugikan Ekonomi Israel Rp50 Triliun per Pekan