Di tengah upaya pemulihan pascabencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar, ada satu pesan tegas dari Tito Karnavian. Sang Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi itu menekankan, kecepatan dan kelengkapan data dari daerah adalah kunci utama. Tanpa itu, bantuan bakal tersendat.
"Strateginya sederhana," ujar Tito, saat menyerahkan bantuan di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Jumat lalu.
"Siapa yang paling cepat mengirimkan data, dia juga yang paling cepat kita kirimkan bantuan sosialnya."
Pernyataan itu ia sampaikan kembali dalam keterangan tertulis di hari berikutnya. Intinya jelas: pemerintah pusat memprioritaskan daerah yang gesit melaporkan data korban terdampak. Mereka yang dapat bantuan lebih dulu.
Nah, Pidie Jaya rupanya jadi contoh nyata. Kabupaten ini dinilai paling cepat dan lengkap menyerahkan datanya. Imbalannya? Mereka menerima alokasi bantuan terbesar dalam tahap pertama penyaluran.
Dari total hampir Rp 900 miliar untuk tahap awal, sekitar separuhnya dikucurkan ke Aceh. Dan dari porsi Aceh itu, lebih dari Rp 200 miliar mendarat di Pidie Jaya. Angka yang tidak kecil.
Bantuan yang disalurkan beragam bentuknya. Ada santunan untuk ahli waris korban meninggal, mencapai Rp 840 juta untuk 56 orang. Untuk 23 korban luka berat, disiapkan Rp 115 juta. Yang paling besar adalah jaminan hidup (jadup) selama 90 hari, menjangkau puluhan ribu jiwa dengan nilai hampir Rp 90 miliar.
Artikel Terkait
Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno Peringatkan Indonesia Akan Berebut Pasokan Migas dengan China dan India
Fadli Zon Apresiasi Kolaborasi Swasta dalam Pemajuan Museum dan Cagar Budaya
TNI Buka Pendaftaran Taruna Akademi TNI 2026, Berikut Syarat dan Jadwalnya
PLN Beri Diskon Tambah Daya Listrik Khusus Pelanggan 1 Fasa di Ramadan 2026