Di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis sore lalu, suasana terasa berbeda. Bukan sekadar pertemuan formal biasa. Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah tokoh kunci umat Islam Indonesia, duduk bersama dari pukul empat sore hingga larut malam. Agenda utamanya jelas: membahas gejolak dunia yang makin panas dan bagaimana bangsa ini harus menyikapinya.
Pertemuan itu sendiri dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama, seperti dijelaskan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, diisi diskusi intensif Presiden dengan tiga pimpinan organisasi Islam terbesar. Mereka adalah Rais Aam PBNU K.H. Miftachul Akhyar, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, dan Ketua Umum MUI K.H. Anwar Iskandar. Diskusi berlangsung hingga waktu buka puasa tiba.
“Jadi, tadi dari jam 4 sore sampai buka puasa, Bapak Presiden didampingi oleh Pak Mensesneg, sama Pak Menko Pangan, sama Pak Ketua MPR melakukan diskusi intensif,” kata Nusron.
Usai berbuka, acara dilanjutkan. Kali ini jangkauannya lebih luas. Hadir sekitar 86 pimpinan ormas Islam, plus sejumlah pengasuh pondok pesantren ternama. Sebut saja dari Gontor, Ploso, Tebuireng, Lirboyo, Darunnajah, hingga Al-Bahjah. Mereka semua berkumpul di istana.
Lalu, apa yang dibahas selama berjam-jam itu? Menurut Nusron, Prabowo secara detail memaparkan peta geopolitik global yang sedang bergejolak. Sorotan utama tentu pada konflik di Timur Tengah yang dampaknya bisa menjalar ke mana-mana. Presiden juga tak menutup-nutupi soal kondisi ekonomi dalam negeri dan langkah antisipasi pemerintah menghadapi ancaman krisis pangan dan energi.
Artikel Terkait
AS Tembak Tenggelamkan Kapal Perang Iran di Samudra Hindia, 87 Tewas
Prabowo Jelaskan Alasan Indonesia Gabung Dewan Perdamaian di Acara Buka Puasa
FPI Desak Presiden Prabowo Sampaikan Belasungkawa Terbuka Atas Gugurnya Pemimpin Iran
Jepara Gelar Pameran Mebel Internasional dengan Konsep Jelajah Klaster Industri