Di sisi lain, ada satu poin kebijakan perdagangan yang cukup menarik perhatian. Prabowo menjelaskan soal kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat, atau yang disebut Agreement on Reciprocal Trade (ART). Tujuannya, kata Nusron, untuk melindungi produk Indonesia agar tidak kena tarif tinggi dan tetap bisa bersaing di pasar AS.
Nah, dari diskusi panjang itu akhirnya muncul satu titik terang. Para ulama dan tokoh yang hadir sepakat untuk menjaga komunikasi intensif dengan pemerintah. Mereka pun bertekad untuk satu barisan dengan Presiden dalam upaya menjaga stabilitas nasional dan mendorong perdamaian dunia.
“Kemudian mengambil satu kesimpulan, berharap kepada pimpinan ormas, tokoh-tokoh Islam ini bersama dengan Bapak Presiden dalam satu barisan,” ujar Nusron.
Yang menarik, pertemuan ini ternyata bukan cuma soal mendengar. Presiden disebutkan sedang mengupayakan langkah diplomasi nyata untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah. Salah satunya dengan membuka jalur komunikasi dengan Iran. Upaya ini, menurut Nusron, sudah dapat dukungan dari sejumlah negara di kawasan, seperti Pakistan dan Uni Emirat Arab.
Pertemuan yang berlangsung hampir tujuh jam itu akhirnya ditutup dengan kesepahaman. Di tengah badai ketidakpastian global, kolaborasi antara pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat sipil dinilai krusial. Bukan sekadar retorika, tapi sebuah ikhtiar konkret untuk menjaga Indonesia tetap berdiri tegak.
Artikel Terkait
AS Tembak Tenggelamkan Kapal Perang Iran di Samudra Hindia, 87 Tewas
Prabowo Jelaskan Alasan Indonesia Gabung Dewan Perdamaian di Acara Buka Puasa
FPI Desak Presiden Prabowo Sampaikan Belasungkawa Terbuka Atas Gugurnya Pemimpin Iran
Jepara Gelar Pameran Mebel Internasional dengan Konsep Jelajah Klaster Industri