"Potensinya lebih dari 3.600 gigawatt, dari berbagai sumber. Ini modal besar banget," ucapnya.
"Dengan modal itu, kita bisa menjadikan Indonesia sebagai hub ekonomi digital sekaligus pusat pengembangan teknologi di kawasan."
Namun begitu, jalan menuju ke sana tidak mudah. Eddy menekankan, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan dunia kampus itu mutlak diperlukan. Dia melihat peran perguruan tinggi sangat strategis. Kampus bukan cuma tempat menyiapkan talenta digital, tapi juga harus jadi pusat riset dan inovasi, khususnya di persimpangan energi dan teknologi.
"Kampus seperti Binus punya peran penting menyiapkan talenta masa depan. Tapi riset di bidang energi terbarukan dan teknologi informasi harus berjalan beriringan. Tujuannya jelas: agar Indonesia nggak cuma jadi pasar, tapi juga pencipta inovasi," ungkap Eddy.
Dan manfaatnya bukan cuma di dunia digital. Percepatan pengembangan energi terbarukan, lanjutnya, bakal membuka pintu peluang ekonomi baru yang lebar. Salah satunya adalah terciptanya lapangan kerja hijau atau green jobs, yang tumbuh dari sektor teknologi dan energi.
"Transisi energi ini bukan cuma agenda lingkungan. Ini juga agenda ekonomi yang nyata," pungkasnya.
"Dengan mengembangkan energi terbarukan untuk menopang ekosistem digital, kita bisa menciptakan industri baru, lapangan kerja baru, dan yang pasti, meningkatkan daya saing Indonesia di masa depan."
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Ayah Tiri di Mojokerto Diduga Cabuli Anak sejak Kelas 3 SD
Presiden Prabowo Gelar Buka Puasa Bersama Pimpinan Ormas Islam dan Pesantren di Istana
ABK Divonis 5 Tahun Penjara atas Kasus Sabu Dua Ton
Gubernur Jabar Liburkan Pekerja Transportasi Tradisional Demi Antisipasi Kemacetan Mudik