Artinya, kita sebenarnya punya waktu untuk bersiap. Pertanyaannya sekarang bukan "apakah" dampaknya akan datang, tapi "seberapa sigap" pemerintah menyikapi jeda yang ada sebelum badai benar-benar menghantam. Ini momen untuk bertindak cepat: perkuat cadangan energi, kendalikan distribusi, dan komunikasikan strategi dengan jelas ke publik.
Di sisi lain, kita masih bisa berharap pada negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Mereka punya jaringan pipa yang bisa mengalirkan minyak tanpa harus lewat Selat Hormuz.
Opsi lain? Bekerja sama dengan negara yang punya kapal tanker dan mengalihkan rute pelayaran, misalnya lewat Cape of Good Hope. Tapi itu berarti biaya lebih mahal dan waktu tempuh lebih lama.
Lalu, bagaimana kesiapan kita? Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut stok BBM masih cukup untuk 21 hari ke depan.
Di tengah situasi genting ini, ada langkah diplomatik yang patut diapresiasi. Presiden Prabowo Subianto disebutkan siap terbang ke Teheran untuk jadi penengah. Sebagai bentuk keseriusan, Menlu RI Sugiono bahkan sudah melakukan pembicaraan langsung dengan Menlu Iran, Abbas Araghchi, awal pekan ini.
Diam saja jelas bukan pilihan. Di dunia yang saling terhubung sekarang, kita tidak boleh cuma jadi penonton. Berusaha mencegah konflik agar tidak membesar menjadi krisis global itulah yang perlu diperjuangkan. Kalau tidak, kita semua yang akan merasakan pahitnya.
Artikel Terkait
Program Makan Bergizi Polri Dongkrak Semangat dan Kehadiran Siswa di SDN 07 Palmerah
UIN Jakarta Buka Pendaftaran Jalur SPAN-PTKIN 2026 Tanpa Tes Tertulis
BNPP RI Gelar Dialog Langsung dengan Calon Birokrat Muda di Wilayah Perbatasan
Kajian Roblox Bahas FOMO Dunia vs Akhirat di Masjid Al-Blok, 4 Maret 2026