Salah satu kilang Aramco di Ras Tanura baru-baru ini kena imbas konflik. Serangan drone menyebabkan kebakaran terbatas dan memaksa penutupan sementara. Kapasitasnya besar, 550 ribu barel per hari. Risikonya jelas.
Kepanikan di Ras Tanura
Insiden di Ras Tanura terjadi Senin lalu. Saudi Aramco langsung menutup operasional kilang terbesarnya itu. Menurut kantor berita resmi Saudi, SPA, penutupan adalah langkah pencegahan. Mereka klaim pasokan untuk pasar lokal tidak terganggu.
Reuters melaporkan, dua drone berhasil ditangkap di area kilang. Puing-puingnya memicu kebakaran di beberapa titik. Syukurlah, tidak ada korban luka yang dilaporkan.
Kilang yang terletak di pesisir Teluk Arab ini adalah terminal ekspor vital. Sebuah sumber menyebut situasi sudah “berada di bawah kendali”. Tapi, kekhawatiran pasar tetap nyata.
Bagaimana tidak? Penutupan kilang besar ini berbarengan dengan macetnya pengiriman lewat Selat Hormuz. Dua pukulan sekaligus untuk pasokan energi global. Indonesia, dengan mengambil langkah awal ini, berusaha keluar dari pusaran ketidakpastian itu. Harapannya, pasokan tetap aman dan harga tidak melonjak tak terkendali.
Artikel Terkait
Negara-Negara Arab dan Barat Serentak Kecam Serangan Balasan Iran di Timur Tengah
Trump Klaim Fasilitas Militer Iran Hancur, Ratusan Warga Mengungsi ke Pakistan
Trump Klaim Serangan AS Hancurkan Angkatan Laut dan Udara Iran
Korlantas Polri Luncurkan Lagu Mudik Tertib, Ojo Kesusu untuk Kampanye Keselamatan