Dalam kesempatan itu, Menpar Widiyanti menyampaikan pandangan Indonesia. Baginya, pertumbuhan pariwisata global tak boleh hanya mengejar angka. Harus ada kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan, serta dibangun dari kolaborasi nyata.
“Bagi kami, transformasi destinasi bukan cuma soal menaikkan kunjungan,” kata Widiyanti.
“Yang lebih penting adalah kualitas pengalaman bagi wisatawan, pemerataan ekonomi, dan memastikan destinasi itu tangguh untuk jangka panjang.”
Indonesia pun berbagi sejumlah praktik baik. Mulai dari pengembangan destinasi yang melibatkan komunitas lokal, strategi pariwisata berkelanjutan, hingga model kemitraan antara pemerintah dan swasta yang diharapkan bisa menarik investasi berkualitas.
Kehadiran Indonesia di forum tingkat tinggi ini jelas punya nilai strategis. Selain memperkuat diplomasi pariwisata, juga membuka peluang jejaring kerja sama yang lebih luas. Menariknya, sejumlah menteri dari negara lain memberikan apresiasi. Mereka tertarik pada pendekatan Indonesia, khususnya dalam hal pengelolaan destinasi, promosi, dan pemanfaatan teknologi termasuk kecerdasan buatan untuk pemasaran.
Pada akhirnya, summit ini diharapkan tak sekadar jadi ajang bicara. Tapi bisa menghasilkan solusi konkret. Terutama bagi negara-negara anggota untuk mendorong destinasi berkembang mereka. Agar tak lagi sekadar punya potensi, tapi benar-benar menjadi tempat yang kompetitif, inklusif, dan bisa bertahan lama.
Artikel Terkait
Pramono Anung Apresiasi JIS sebagai Legacy Anies, Fokus Kini pada Penyempurnaan Akses Transportasi
BoA Dirikan Agensi Sendiri Usai Tinggalkan SM Entertainment Setelah 25 Tahun
Presiden Prabowo Dijadwalkan Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk Mei 2026
Pernyataan Alumni LPDP Soal Kewarganegaraan Anak Picu Debat Kontrak Sosial