"Cahaya matahari yang menembus atmosfer Bumi itu mengalami hamburan Rayleigh," jelas Taufiq.
Intinya, cahaya biru yang gelombangnya pendek itu terhambur dan tersaring. Sementara, cahaya merah dengan gelombang lebih panjang bisa nyelonong dan akhirnya menyinari permukaan Bulan yang sedang 'terhalang' tadi. Hasilnya? Bulan tampak kemerahan. Menariknya, tingkat kepekatan warna merahnya sangat tergantung kondisi atmosfer kita saat itu. Kalau lagi banyak debu atau polusi, warna merahnya bisa jadi lebih dramatis dan pekat.
Kapan dan Di Mana Nontonnya?
Secara keseluruhan, proses gerhana ini panjang banget, hampir 6 jam. Tapi buat yang mau lihat momen puncaknya, catat waktu-waktu kunci ini:
- Bulan mulai masuk ke bayangan inti (totalitas awal): 18.03 WIB.
- Puncak gerhana: 18.33 WIB / 19.33 WITA / 20.33 WIT.
- Totalitas berakhir: 19.03 WIB.
- Seluruh proses selesai: sekitar 21.24 WIB (bisa sampai tengah malam buat wilayah Timur).
Soal lokasi terbaik, Fachri Radjab dari BMKG bilang, masyarakat Indonesia Timur punya keuntungan. Di sana, Bulan terbit pas saat gerhana mulai. Mereka bisa menyaksikan seluruh proses dari awal. Sementara di wilayah Barat, Bulan baru muncul saat gerhana sudah berjalan, bahkan mungkin langsung dalam kondisi merah.
Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 ini termasuk dalam siklus Saros 133. Ia jadi satu-satunya gerhana tahun itu yang bisa diamati dari Indonesia. Sebelumnya, fenomena serupa terjadi tahun 2008. Dan setelah 2026, kita harus nunggu sampai 2044 untuk bisa melihatnya lagi. Cukup langka, kan?
Jadi, sudah siap menyambut tontonan spektakuler dari langit malam itu?
Artikel Terkait
Pramono Anung Apresiasi JIS sebagai Legacy Anies, Fokus Kini pada Penyempurnaan Akses Transportasi
BoA Dirikan Agensi Sendiri Usai Tinggalkan SM Entertainment Setelah 25 Tahun
Presiden Prabowo Dijadwalkan Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk Mei 2026
Pernyataan Alumni LPDP Soal Kewarganegaraan Anak Picu Debat Kontrak Sosial