Selasa, 3 Maret 2026 nanti, langit Indonesia akan dihiasi oleh sebuah pertunjukan alam yang luar biasa. BMKG sudah mengonfirmasinya: Gerhana Bulan Total bakal terlihat dari Sabang sampai Merauke. Ini bukan cuma peristiwa astronomi biasa, lho. Momen ini juga menghadirkan fenomena "Blood Moon" atau Bulan Merah yang selalu bikin decak kagum.
Nah, pasti banyak yang penasaran. Apa sih sebenarnya Blood Moon itu? Kenapa bisa terjadi? Kita bahas penyebab ilmiahnya, sekalian lihat jadwal pastinya biar nggak kelewatan.
Blood Moon, Si Bulan Merah Darah
Kalau merujuk penjelasan BMKG, fenomena ini terjadi saat Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar sempurna. Posisi Bumi ada di tengah-tengah, sehingga ia menghalangi cahaya matahari yang mestinya menerangi Bulan. Jadi, ya, gerhana bulan total cuma bisa terjadi saat purnama.
Tapi jangan salah, nggak semua purnama berujung gerhana. Orbit Bulan dan Bumi itu nggak selalu sebidang. Makanya, peristiwa seperti ini punya siklusnya sendiri dan bisa diprediksi. Yang spesial dari gerhana nanti adalah durasi totalitasnya yang cukup lama, sekitar 59 menit. Cukup waktu buat kita menikmati pemandangan bulan yang berubah warna jadi merah tembaga.
Lalu, Kenapa Bisa Merah?
Warna merah itu bukan sulap. Prof. Taufiq Hidayat, Guru Besar Astronomi ITB, menjelaskan soal ini. Katanya, istilah Blood Moon muncul karena penampakannya yang seperti merah darah.
Artikel Terkait
Pramono Anung Apresiasi JIS sebagai Legacy Anies, Fokus Kini pada Penyempurnaan Akses Transportasi
BoA Dirikan Agensi Sendiri Usai Tinggalkan SM Entertainment Setelah 25 Tahun
Presiden Prabowo Dijadwalkan Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk Mei 2026
Pernyataan Alumni LPDP Soal Kewarganegaraan Anak Picu Debat Kontrak Sosial