"Dokter bilang, 'Cukup ya, Billar. Ini riskan buat ibunya'," ungkap Billar menirukan perkataan dokter. "Karena memang tidak direncanakan, untuk yang ketiga ini kami akan sangat menjaga. Cukup tiga saja."
Keputusan untuk melahirkan pada tanggal 23 Februari juga bukan tanpa pertimbangan mendalam. Menurut Billar, kondisi Lesti dinilai cukup berisiko jika persalinan ditunda lebih lama lagi. "Syukurnya kita memilih tanggal 23," katanya.
Alasannya terutama berkaitan dengan fisik Lesti. Bobot tubuhnya yang kecil membuat dinding perutnya sangat tipis. Bayangkan, bayi dengan berat ideal 3 kilogram terus berkembang di dalamnya.
"Kalau dibiarkan lebih lama, bahaya. Bisa-bisa sobek perutnya karena memang sudah setipis itu," jelas Billar dengan nada serius.
Proses persalinannya sendiri berlangsung cepat. Bahkan, Billar mengaku terkejut dengan kecepatan operasi caesar kali ini.
"Prosesnya sekali 'beset' doang, bayinya langsung kelihatan. Kalau dulu, untuk anak pertama dan kedua, berapa lapis, enggak bisa langsung. Ini benar-benar secepat itu. Justru yang lama itu saat menjahitnya kembali," ceritanya.
Kini, pasca melahirkan, Lesti sedang dalam masa pemulihan. Ia menjalani prosedur ERACS, sebuah metode yang diklaim bisa mempercepat penyembuhan. Billar menutup pembicaraan dengan penuh harap.
"Kondisinya alhamdulillah lagi recovery. Metode Eracs tadi, jadi insyaallah lebih cepat proses pemulihannya," pungkasnya.
Sebuah perjalanan yang penuh kejutan, sedikit ketegangan, namun akhirnya bermuara pada kebahagiaan yang tak terkira. Selamat untuk keluarga kecil Billar dan Lesti.
Artikel Terkait
Pertemuan Prabowo di Istana, Megawati Berhalangan Hadir
BI Jateng Siapkan Rp26,32 Triliun Uang Baru untuk Lebaran 2026
Ibu 20 Tahun Buang Bayi ke Tempat Sampah Usai Lahir Sendiri di Pademangan
15 Penerbangan Timur Tengah dari Soetta Dibatalkan Pagi Ini, Tren Mulai Turun