Ukurannya yang super halus justru meningkatkan potensi dampak biologisnya. Dengan model yang ada, studi ini memproyeksikan peningkatan risiko kematian antara 5–13 persen untuk penyakit paru dan jantung, serta kanker paru-paru.
“Ini lebih tinggi daripada risiko partikel halus PM2.5 secara umum di Eropa,” tegas Kaushik. “Plastik mikro-nano, meskipun massanya rendah, dapat menimbulkan risiko kesehatan dari waktu ke waktu.”
Paradoks Kendaraan Listrik
Di sinilah temuan ini menjadi penting bagi kebijakan. Dominasi keausan ban sebagai sumber polusi plastik punya implikasi besar.
“Dengan sekitar dua pertiga mikroplastik berasal dari abrasi ban, ini menunjukkan bahwa masalah debu halus tidak dapat diselesaikan hanya dengan beralih ke mobilitas listrik,” kata Hartmut Herrmann dari TROPOS, yang memimpin studi tersebut.
Pernyataannya punya dasar yang kuat. Riset terpisah dari Imperial College London pada 2023 menunjukkan bahwa kendaraan listrik biasanya 20–30 persen lebih berat daripada mobil konvensional, akibat baterainya yang besar dan padat.
Secara global, diperkirakan enam juta ton partikel dari keausan ban terlepas ke lingkungan setiap tahunnya. Partikel ini mengandung koktail bahan kimia beracun, mulai dari hidrokarbon, benzotiazol, hingga logam berat seperti seng. Partikel besar biasanya hanyut terbawa air hujan ke sungai dan laut. Sementara partikel yang lebih halus dan ringan, tetap melayang di udara, siap untuk kita hirup.
Studi dari Leipzig ini pada akhirnya memperluas cara pandang kita tentang polusi udara. Persoalannya bukan lagi cuma asap knalpot hitam atau gas karbon. Di balik kendaraan yang semakin sunyi dan ‘bebas emisi’, ternyata ada partikel plastik tak kasatmata yang tetap beterbangan.
Transisi menuju transportasi rendah karbon tetaplah penting dan mendesak untuk mengatasi krisis iklim. Tapi, jika kebijakan udara bersih hanya fokus mengawasi emisi dari knalpot, maka sebagian besar mikroplastik akan terus mengambang di langit kota-kota kita.
Mobil boleh saja tanpa asap. Namun, tanpa upaya serius untuk mengendalikan keausan ban dan regulasi partikel non-knalpot, udara yang kita hirup tetap akan membawa residu plastik yang tak terlihat. Dan bahayanya, mungkin tak kalah serius.
Artikel Terkait
Insanul Fahmi Minta Ruang Privat untuk Perbaiki Rumah Tangga di Tengah Gugatan Cerai
Wali Kota Bekasi Tegaskan Tak Ada Toleransi untuk Staf TU Diduga Kirim Video Porno ke Siswa
Wamen Bima Arya Tegaskan Penugasan Praja IPDN di Aceh Tamiang adalah Misi Kebangsaan
Golkar Prihatin dan Ingatkan Kader Usai Bupati Pekalongan Terjaring OTT KPK