Kekhawatiran serupa diungkapkan Edmund King, Presiden AA. Ia memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz ini berpotensi mendongkrak harga bahan bakar minyak di seluruh dunia.
"Kekacauan dan pemboman di Timur Tengah pasti akan menjadi katalis untuk mengganggu distribusi minyak secara global. Itu pasti berujung pada kenaikan harga," tegasnya.
"Besarnya, dan yang lebih penting, lamanya kenaikan harga itu, sangat bergantung pada berapa lama konflik ini berlangsung."
Di lapangan, klaim datang dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Mereka menyatakan tiga kapal tanker asal Inggris dan AS telah "terkena rudal dan terbakar". Sampai berita ini diturunkan, pihak Inggris dan AS sendiri belum memberikan komentar resmi.
UKMTO melaporkan "beberapa insiden keamanan" terjadi di seantero Teluk Arab dan Teluk Oman. Mereka menyarankan atau lebih tepatnya mengimbau agar semua kapal "melintasi dengan hati-hati". Sebuah peringatan yang terdengar biasa, tapi punya bobot luar biasa dalam situasi saat ini.
"Karena ancaman Iran, selat tersebut secara efektif tertutup," jelas Homayoun Falakshahi dari Kpler kepada BBC News.
"Kapal-kapal telah mengambil tindakan pencegahan untuk tidak masuk. Alasannya sederhana: risikonya terlalu tinggi. Belum lagi biaya asuransi mereka yang sudah meroket."
Falakshahi punya prediksi. Menurutnya, AS kemungkinan besar akan berusaha melindungi jalur pelayaran itu. Jika upaya mereka berhasil, lonjakan harga minyak mungkin bisa dicegah. Tapi, skenario sebaliknya jauh lebih menakutkan: jika selat itu tetap tertutup dalam waktu lama, harga bisa melonjak "jauh, jauh lebih tinggi".
Sementara itu, detail dari UKMTO menyebutkan dua kapal yang identitasnya sengaja tidak disebutkan terkena proyektil tak dikenal dan menyebabkan kebakaran. Proyektil serupa juga meledak sangat dekat dengan kapal ketiga. Kabar baiknya, awak kapal yang terlibat dilaporkan selamat dan dalam kondisi baik.
Masih ada insiden keempat yang dilaporkan ke UKMTO, yang melibatkan evakuasi awak kapal, meski penyebab pastinya belum jelas. Perusahaan keamanan maritim swasta Vanguard Tech menyebut serangan-serangan itu melibatkan kapal-kapal berbendera Gibraltar, Palau, Kepulauan Marshall, dan Liberia. Sebuah armada internasional yang jadi sasaran.
Respons praktis langsung datang dari dunia bisnis. Grup pelayaran raksasa asal Denmark, Maersk, mengumumkan dalam pernyataan pada Minggu bahwa mereka akan menghentikan sementara semua pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez. Sebagai gantinya, kapal-kapal mereka akan dialihkan melalui rute yang lebih panjang di sekitar Tanjung Harapan di Afrika. Sebuah keputusan mahal, tapi dianggap perlu untuk keamanan.
Ketegangan ini adalah puncak dari eskalasi yang terjadi akhir pekan ini. Iran dan Israel saling melancarkan serangan udara baru pada hari Minggu. Semuanya berawal setelah serangan AS-Israel pada Sabtu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Kematiannya memicu gelombang serangan balasan di sejumlah negara Timur Tengah, termasuk dilaporkan di Dubai UEA, Doha (Qatar), Bahrain, dan Kuwait. Situasi yang rumit, dan kini dunia menunggu dengan cemas langkah selanjutnya.
Artikel Terkait
Konflik AS-Israel-Iran Ganggu Penerbangan Internasional, Penumpang Terjebak di Bali
Polisi Ungkap Video Viral Penganiayaan ART di Sunter Ternyata Kejadian Tiga Tahun Lalu
Kontak dengan Kerb Buriram Sebabkan Ban Kempes dan Gagalkan Balapan Marquez
Polres Bogor Tangani Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Disabilitas di Citerup