Lalu, parameter apa yang dipakai? Salah satunya adalah jumlah kendaraan per jam yang terpantau lewat radar dan sistem penghitung lalu lintas atau traffic counting.
"Parameter itu tentunya akan kita lihat radar, ketika satu jam berturut-turut 4.500 hingga 5.000 dalam satu jam, ini akan kami berlakukan contraflow lajur 1. Demikian juga apabila sudah 6.400, ini juga akan kami melakukan contraflow lajur 2," jelas Kakorlantas.
Di sisi lain, kebijakan one way baik nasional maupun sepenggal juga akan dipertimbangkan. Dasarnya adalah data pemantauan real time yang terus diperbarui.
"Kami akan melakukan one way nasional atau one way sepenggal di wilayah one way nasional, tentunya update terakhir dari teknologi pemantauan arus lalu lintas, baik itu melalui drone presisi, juga radar yang ada di Jasa Marga," katanya.
Jadi, skenarionya kira-kira begini. Kalau angka traffic counting sudah sangat tinggi dan contraflow dua lajur pun sudah diterapkan, maka opsi terakhir adalah memberlakukan one way nasional.
"Tentunya traffic counting yang sudah cukup tinggi, termasuk contraflow 2 lajur, nanti akan kita buka one way nasional. Itulah cara-cara Korlantas hadir bekerja menggunakan teknologi dan update traffic counting, termasuk flow di bidang lintas akan kami hitung dengan cara-cara teknologi," pungkas dia.
Artikel Terkait
Iran Sambut Positif Niat Prabowo Jadi Mediator di Timur Tengah
Kematian Khamenei Picu Perebutan Suksesi di Iran, Majelis Pakar Berhadapan dengan Ancaman dan Intrik
Iran Hadapi Vakum Kekuasaan Pasca-Kematian Khamenei, Majelis Pakar Cari Penerus
Persis Solo Raih Kemenangan Dramatis 2-1 atas Persik Meski Bermain 10 Pemain