Di sisi lain, tekanan juga dialihkan ke panggung global. Iran, sebagai negara pendiri PBB, mendesak Dewan Keamanan untuk segera bertindak. Mereka menilai lembaga itu punya tanggung jawab penuh untuk menjaga perdamaian, dan kini saatnya menjalankan mandat tersebut.
Lebih dari sekadar insiden sekali tembak, pernyataan Kedubes menyoroti pola lama. Tindakan Washington dan Tel Aviv, disebutnya, telah menjadi ancaman serius bagi stabilitas regional dan global selama beberapa dekade terakhir. Ancaman yang kini kembali mewujud dalam bentuk rudal.
Tak lupa, seruan juga ditujukan ke Indonesia. Pemerintah dan masyarakat diharapkan ikut bersuara.
"Kedutaan Besar berharap agar Pemerintah dan rakyat Indonesia, para tokoh politik, organisasi keagamaan dan Islam, hingga kalangan akademisi dan media, untuk secara tegas mengecam dimulainya perang dan agresi terhadap wilayah Iran," demikian harapan yang disampaikan.
Suasana pagi itu di Teheran telah berubah. Dari sunyi menjadi riuh oleh sirene dan dentuman. Dan dari sebuah serangan fisik, gelombang kecaman diplomatik pun mulai bergulir, mencari dukungan dan menuntut keadilan di forum internasional.
Artikel Terkait
KBRI Tehran Pastikan 329 WNI di Iran Aman Usai Serangan Rudal
Kemdikti dan Komnas Perempuan Perkuat Kolaborasi untuk Kampus Bebas Kekerasan Seksual
BNPB Imbau Waspada Cuaca Ekstrem dan Potensi Banjir-Longsor Sepekan ke Depan
FPTI Bentuk Tim Investigasi Dugaan Kekerasan terhadap Delapan Atlet Panjat Tebing