Ramadan ternyata mengubah kebiasaan kita secara drastis, setidaknya itu yang terlihat dari data digital Telkomsel. Yang menarik, waktu sahur justru jadi momen paling sibuk. Antara jam tiga sampai lima pagi, trafik digital melonjak hampir 90 persen dibanding hari biasa. Bisa dibilang, ini adalah "prime time" baru yang sangat potensial buat para pemasar.
Fakta ini diungkap dalam laporan khusus DigiAds Ramadan Insight 2026, yang menyelami perilaku konsumen di bulan puasa tahun lalu. Engagement pelanggan Telkomsel naik signifikan, mencapai 112 persen. Pemicunya? Aktivitas di media sosial, belanja online, dan transaksi keuangan digital yang sama-sama naik.
Menurut Arief Pradetya, VP Digital Advertising, Wholesale, and Interconnect Telkomsel, kunci suksesnya bukan cuma jangkauan.
"Kekuatan kampanye bukan hanya tentang seberapa luas pesan tersampaikan, tetapi juga seberapa relevan dan bermakna pesan tersebut bagi audiens," jelasnya dalam pernyataan resmi, Jumat (6/1).
"Dengan analisis mendalam berbasis data survey dan insight dari basis pelanggan terbesar dan terluas di Indonesia, kami ingin membantu pelaku industri memaksimalkan peluang di tengah kompleksitas perilaku konsumen digital yang terus berkembang."
Selain sahur, ada dua momen lain yang ramai. Pas zuhur, antara jam 11 siang sampai 2 sore, orang-orang banyak berselancar dan main media sosial. Lalu, jelang buka puasa dari jam 4 sampai 7 malam, engagement untuk belanja dan hiburan digital mencapai puncaknya.
Lalu, siapa sih yang paling aktif? Analisis dari jutaan klik kampanye Ramadan menunjukkan, 94 persen audiens dengan konversi tertinggi adalah muslim. Mayoritas berasal dari generasi Milenial, disusul Gen X dan Gen Z. Secara geografis, mereka banyak berkumpul di Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, Banten, dan Sumatera Utara.
Dari segi kebiasaan, lebih dari separuhnya aktif di media sosial. Sebagian lagi rutin belanja online dan pakai layanan keuangan digital. Nah, soal belanja ini, angkanya cukup mencengangkan. Lebih dari 54% konsumen mengeluarkan uang lebih banyak selama Ramadan, rata-rata antara Rp 3,5 juta sampai Rp 7 juta. Belanja untuk bahan masakan dan makanan siap saji mendominasi.
Meski tren digital kuat, toko fisik tetap tak bisa ditinggalkan. Pembagian kanal belanja masih 64% online dan 36% offline. Artinya, strategi omnichannel yang menyeluruh tetap krusial.
Hasilnya? Cukup meyakinkan. Hampir semua brand yang pakai solusi DigiAds berhasil capai target mereka tahun lalu. Angka awareness, consideration, hingga advocacy naik signifikan. Kampanye e-commerce bahkan bisa raih CTR di atas 2,5 persen.
Melihat peluang ini, untuk Ramadan 2026 Telkomsel mendorong pendekatan 360 derajat. Mulai dari iklan programatik, display, sampai aktivasi offline lewat Posko Mudik. Mereka juga gandeng Meta untuk perluas penargetan audiens. Semua data tentu diolah secara agregat dan anonim, menjaga privasi pengguna.
Jadi, pola konsumsi kita selama bulan suci benar-benar telah bergeser. Dan bagi pelaku usaha, memahami ritme digital yang baru ini bisa jadi kunci.
Artikel Terkait
OAIL Konfirmasi Cahaya Misterius di Lampung Bukan Meteor, Melainkan Sampah Antariksa
Iran Buka Front Siber, Serangan Psikologis dan Spyware Gantikan Rudal
X Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Pengguna di Indonesia Naik Jadi 16 Tahun
WhatsApp Permudah Buat Stiker Hampers Lebaran dengan Fitur AI