Jumat sore yang cerah di akhir Februari, Pondok Pesantren Tarbiyatul Ulum Sumursongo, Magetan, ramai oleh kehadiran tamu. Edhie Baskoro Yudhoyono, atau yang akrab disapa Ibas, hadir untuk buka puasa bersama. Acara yang mengusung tema "Santri Mandiri, Umat Berdaya, Indonesia Maju" itu dihadiri oleh kiai, para santri, dan warga sekitar. Lebih dari sekadar acara buka bersama, momen ini dimaknai sebagai upaya nyata memperkuat nilai keagamaan dan pemberdayaan masyarakat yang berpusat di pesantren.
Bagi Ibas, Ramadan punya makna yang luas. Bulan suci ini bukan cuma soal ibadah individu, tapi juga momentum untuk membangkitkan energi sosial. Ia melihatnya sebagai waktu yang tepat untuk merajut persatuan dan mendorong perubahan positif di tengah masyarakat.
Pesantren, dalam pandangannya, punya peran yang sangat penting. Bukan sekadar tempat ngaji. Ia menekankan, lembaga ini adalah bagian dari sejarah panjang perjuangan bangsa, sekaligus pusat pembentukan moral dan kepemimpinan.
Di sisi lain, Ibas sangat yakin dengan potensi besar para santri. Mereka inilah, menurutnya, generasi masa depan yang akan mengisi berbagai lini pembangunan nasional. Namun begitu, ia mengingatkan bahwa kemajuan Indonesia tidak bisa diraih sendirian. Butuh semangat gotong royong dari semua pihak, termasuk komunitas pesantren yang selama ini dikenal sebagai benteng moral.
Ia juga menyoroti Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Bagi Ibas, regulasi ini adalah bentuk pengakuan negara terhadap peran strategis pesantren. Fungsi utamanya sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan penggerak pemberdayaan masyarakat akhirnya mendapat payung hukum yang jelas.
Artikel Terkait
Parade Imlek Nasional 2026 Dibuka dengan Tanda Kerukunan di Lapangan Banteng
Badan Gizi Nasional Tegaskan Kabar PPPK Tahap 3 Adalah Hoaks
Parade Imlek 2026 Warnai Jakarta, Wapres Gibran Dijadwalkan Hadir
Polisi Ungkap Sindikat Pencurian Kabel Telkom di Cileungsi, Pelaku Diduga Mantan Pekerja Rekanan