Sembilan Jenderal Dicopot dari Parlemen Jelang Sidang Tahunan Tiongkok

- Jumat, 27 Februari 2026 | 15:15 WIB
Sembilan Jenderal Dicopot dari Parlemen Jelang Sidang Tahunan Tiongkok

Beijing Gelombang pembersihan terbaru yang digulirkan Xi Jinping kembali menunjukkan taringnya. Kali ini, sembilan petinggi militer harus kehilangan kursi mereka di parlemen. Situasinya makin panas.

Secara resmi, pemerintah memberhentikan 19 pejabat tinggi. Yang menarik, hampir separuhnya adalah jenderal. Keputusan ini muncul tiba-tiba, cuma beberapa hari sebelum agenda politik terpenting tahunan Tiongkok, “Dua Sesi”, digelar pekan depan. Waktunya jelas bukan kebetulan.

Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional (NPC) yang mengonfirmasi penghapusan nama-nama itu. Namun mereka tutup mulut soal alasan spesifik di baliknya. Diam-diam, langkah ini sepertinya berkaitan dengan pencopotan Zhang Youxia beberapa minggu lalu. Jenderal berpangkat tinggi itu dikenal sebagai sekutu dekat Xi Jinping sendiri.

Fokusnya jelas: militer.

Dari daftar yang beredar, ada nama-nama besar di tubuh pertahanan. Media pemerintah menyebut Li Qiaoming, sang Komandan Angkatan Darat, dan Shen Jinlong, mantan Komandan Angkatan Laut. Mereka semua dari Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Meski fokusnya militer, pembersihan ini ternyata lebih luas. Pejabat sipil seperti Sun Shaochong, mantan ketua partai di Mongolia Dalam, juga ikut tersapu. Ini seperti melanjutkan tren perombakan besar-besaran yang sudah berjalan. Ingat saja aksi tegas Oktober 2025 lalu, saat sembilan jenderal dicopot dengan tuduhan korupsi.

Sejak 2013, Xi Jinping memang tak pernah main-main soal korupsi. Bagi dia, ini adalah pilar kepemimpinan. Ancaman terbesar bagi partai, begitu katanya berulang kali.

“Pertempuran melawan korupsi tetap berat dan kompleks,” tegas Xi dalam sebuah pidato tentang integritas partai.

Namun begitu, di mata banyak pengamat internasional, naratifnya tidak sesederhana itu. Mereka melihat pembersihan ini bukan cuma soal penegakan hukum, tapi lebih sebagai alat konsolidasi kekuasaan. Cara untuk menyingkirkan rival dan memperkuat cengkeraman kekuasaan yang absolut.

Istilah resminya sering samar: “pelanggaran disiplin dan hukum berat”. Itu adalah eufemisme andalan untuk kasus korupsi. Label yang sama pernah disematkan pada Zhang Youxia sebelum dia jatuh.

Lalu, apa hubungannya dengan “Dua Sesi”?

Langkah ini terjadi persis ketika ribuan delegasi bersiap membanjiri Beijing. Mereka akan menghadiri pertemuan tahunan NPC dan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC). Acara besar dari 4 hingga 11 Maret nanti.

Momen ini krusial. Di sinilah rencana lima tahun ke depan diumumkan, tujuan kebijakan negara diuraikan, dan target ekonomi tahunan di tengah tantangan global yang makin ruwet ditetapkan.

Dengan mengatur ulang konfigurasi politik sekarang, Beijing memastikan semuanya selaras sebelum arah strategis negara ditetapkan. Segalanya harus kompak. Tidak ada suara sumbang yang mengganggu.

Jadi, di balik hiruk-pikuk persiapan “Dua Sesi”, ada pesan yang jelas: konsolidasi kekuasaan terus berjalan, dan Xi Jinping masih memegang kendali penuh.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar