Namun begitu, di mata banyak pengamat internasional, naratifnya tidak sesederhana itu. Mereka melihat pembersihan ini bukan cuma soal penegakan hukum, tapi lebih sebagai alat konsolidasi kekuasaan. Cara untuk menyingkirkan rival dan memperkuat cengkeraman kekuasaan yang absolut.
Istilah resminya sering samar: “pelanggaran disiplin dan hukum berat”. Itu adalah eufemisme andalan untuk kasus korupsi. Label yang sama pernah disematkan pada Zhang Youxia sebelum dia jatuh.
Lalu, apa hubungannya dengan “Dua Sesi”?
Langkah ini terjadi persis ketika ribuan delegasi bersiap membanjiri Beijing. Mereka akan menghadiri pertemuan tahunan NPC dan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC). Acara besar dari 4 hingga 11 Maret nanti.
Momen ini krusial. Di sinilah rencana lima tahun ke depan diumumkan, tujuan kebijakan negara diuraikan, dan target ekonomi tahunan di tengah tantangan global yang makin ruwet ditetapkan.
Dengan mengatur ulang konfigurasi politik sekarang, Beijing memastikan semuanya selaras sebelum arah strategis negara ditetapkan. Segalanya harus kompak. Tidak ada suara sumbang yang mengganggu.
Jadi, di balik hiruk-pikuk persiapan “Dua Sesi”, ada pesan yang jelas: konsolidasi kekuasaan terus berjalan, dan Xi Jinping masih memegang kendali penuh.
Artikel Terkait
Gubernur Khofifah Wanti-wanti Lonjakan Harga Cabai Rawit Pengaruhi Inflasi Jatim
Wakil Ketua Baleg DPR Dukung Komcad untuk ASN, Usul Wajib Militer Dipertimbangkan
BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem di Rute Mudik Jawa Saat Lebaran 2026
Shindong Super Junior Putus Kontak dengan Orang Tua, Disebut Hanya Mesin ATM