Ibas Sebut Irigasi Rusak Ancam Kedaulatan Pangan Nasional

- Jumat, 27 Februari 2026 | 09:40 WIB
Ibas Sebut Irigasi Rusak Ancam Kedaulatan Pangan Nasional

Lebih dari Sekadar Angka

Dampak irigasi yang baik, bagi Ibas, sangat konkret. Dengan pasokan air yang lancar, petani bisa menanam dua bahkan tiga kali setahun. Peningkatan indeks pertanaman itu langsung terasa di kantong mereka.

"Jika produktivitas naik satu ton per hektare saja, dengan luasan ratusan hektare, nilai tambahnya bisa mencapai miliaran rupiah. Ini bukan angka kecil. Ini penghasilan rakyat," katanya dengan penekanan.

Ia pun mengaitkannya dengan program ketahanan pangan nasional. Peningkatan produksi pertanian, dengan irigasi sebagai fondasi utamanya, harus terus didorong. Untuk mengelola fondasi itu, Ibas mendorong penguatan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Gotong royong dalam pengelolaan irigasi, baginya, adalah "teknologi sosial" paling ampuh yang kita miliki.

Ke depan, modernisasi mutlak diperlukan. Mulai dari pemantauan digital, pintu air otomatis, hingga pemetaan berbasis data. Ia juga mengajak anak muda terlibat. "Yang menguasai air, menguasai masa depan. Pertanian hari ini harus presisi, berbasis data, dan melibatkan anak muda," serunya.

Refleksi di Bulan Ramadan

Dalam suasana Ramadan, Ibas mengajak semua pihak berefleksi. Momentum menahan haus dan dahaga selama puasa, seharusnya mengingatkan betapa berharganya air bagi kehidupan, terutama bagi petani.

"Ramadan mengajarkan kita menahan haus. Petani setiap hari merasakan pentingnya air. Maka pengelolaan air harus adil dan berpihak," katanya.

Menutup sambutannya, ia menegaskan komitmen untuk mengawal rehabilitasi jaringan irigasi, menguatkan anggaran, dan mempererat kolaborasi. Pesannya ringkas namun padat: "Jika irigasi lancar, petani tenang. Jika petani tenang, panen makmur. Jika panen makmur, rakyat bahagia. Ramadan religi, menguatkan negeri."

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar