Vinicius dan Siulan Bernabéu: Kritik Pedas atau Pengakuan Terselubung?

- Kamis, 22 Januari 2026 | 22:30 WIB
Vinicius dan Siulan Bernabéu: Kritik Pedas atau Pengakuan Terselubung?

Bernabéu bergemuruh, tapi bukan dengan sorak-sorai. Di tengah kemenangan Madrid atas Levante akhir pekan lalu, justru siulan dan cemoohan yang memenuhi stadion. Dan dari semua nama, Vinicius Junior lah yang paling kerap jadi sasaran.

Penyerang Brasil itu jelas tak nyaman. Beberapa hari kemudian, usai tampil gemilang dengan kontribusi empat gol dalam kemenangan 6-0 atas Monaco di Liga Champions, Vinicius membuka suara. Ia mengaku melewati hari-hari yang “sangat berat”.

“Saya selalu jadi sorotan, dan saya nggak mau di posisi itu karena hal-hal di luar lapangan,” ujarnya dengan nada kesal.

“Saya ingin diingat karena apa yang saya lakukan di dalam lapangan. Untuk semua yang sudah saya berikan ke klub ini.”

Reaksi pun berdatangan. Jude Bellingham menjawab kritik dengan selebrasi yang penuh pesan. Sementara itu, Kylian Mbappé dengan lantang membela rekan setimnya. Bagi Mbappé, masalahnya bukan pada fans yang menyuarakan kekecewaan itu hal wajar. Tapi, menunjuk satu pemain sebagai kambing hitam? Itu yang salah.

“Kalau mau mencemooh, cemooh seluruh skuad. Jangan fokus ke satu orang saja,” tegas striker Prancis itu.

“Kami memang bermain buruk sebagai tim. Dan kami punya karakter untuk memperbaikinya di lapangan.”

Lalu ada Toni Kroos. Gelandang asal Jerman itu punya pandangan yang jauh lebih ekstrem, bahkan terkesan tak biasa. Menurutnya, justru kritikan pedas itu adalah semacam pengakuan terselubung atas status seorang pemain.

“Mereka jarang mengkritik pemain yang ‘kecil’,” kata Kroos dalam podcast-nya, Einfach mal Luppen.

Ia menjelaskan, standar di Real Madrid memang gila-gilaan. Bermain di sini artinya hidup di bawah mikroskop. Setiap langkah diperhatikan, setiap kesalahan dibesar-besarkan. Tapi itu hanya berlaku untuk nama-nama besar.

“Baik dari media maupun fans, pemain kecil jarang dikritik. Nama-nama besarlah yang selalu dipilih, entah untuk dipuji atau dicaci,” tegasnya.

Bukan berarti Kroos membenarkan cara ini. Baginya, ini cuma realitas yang sering terjadi. Dicemooh sebelum pertandingan justru bikin segalanya makin sulit. Tapi ya, begitulah situasinya sekarang.

“Satu-satunya jalan keluar adalah lewat hasil, sikap, dan permainan. Kita semua pernah melalui fase seperti ini,” kenang Kroos.

Memang, reaksi negatif fans Madrid punya latar belakang. Tiga hari sebelum pertandingan penuh siulan itu, Madrid ditaklukkan Albacete, tim divisi dua, dengan skor 3-2. Kekalahan yang memalukan.

Kroos sendiri punya pengalaman pahit serupa. Di musim dingin 2021, ia duduk di bangku cadangan saat Madrid tersingkir dari Copa del Rey oleh Alcoyano, tim divisi tiga. Memalukan? Tentu. Tapi hidup terus berjalan.

“Saya juga pernah tersingkir oleh tim divisi tiga,” ujarnya mengenang.

Yang menarik, di kedua musim ketika kekalahan memalukan itu terjadi, Madrid justru keluar sebagai juara La Liga. Situasi memang tidak pernah sempurna. Bahkan generasi emas sekalipun punya hari-hari buruk.

Mungkin itu yang coba disampaikan Kroos. Di Madrid, badai kritik adalah bagian dari paket. Dan hanya pemain yang dianggap “hebat” yang layak menerimanya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar