Anggota DPRD DKI Desak Evaluasi Menyeluruh Sistem Rekrutmen dan Pelatihan Pengemudi Transjakarta

- Kamis, 26 Februari 2026 | 09:10 WIB
Anggota DPRD DKI Desak Evaluasi Menyeluruh Sistem Rekrutmen dan Pelatihan Pengemudi Transjakarta

Tak berhenti di situ. Kent juga menekankan pentingnya melibatkan tenaga medis, psikolog, bahkan tokoh agama dalam pelatihan. Faktor kelelahan, tekanan kerja, kesehatan fisik, dan stabilitas emosional, menurutnya, sangat memengaruhi kualitas keputusan seorang pengemudi di belakang kemudi.

"Dalam banyak kasus, human error jadi penyebab utama kecelakaan. Makanya, aspek kesehatan fisik, mental, dan psikologis pramudi harus jadi bagian integral dari sistem pembinaan," jelas Kepala BAGUNA DPD PDIP Jakarta itu.

Pelatihan itu sendiri, lanjutnya, harus dirancang komprehensif. Mulai dari simulasi situasi darurat, manajemen stres, etika pelayanan, hingga evaluasi berkala pascapelatihan. Hasilnya pun wajib dimonitor terus-menerus, jangan sampai berhenti jadi acara seremonial.

Kent menegaskan, keselamatan penumpang memang tanggung jawab bersama. Tapi sebagai operator, Transjakarta punya peran sentral. Mereka harus memastikan setiap pramudi benar-benar siap secara kompetensi, fisik, dan mental sebelum mengemudikan armada yang mengangkut ratusan hingga ribuan jiwa setiap hari.

"Evaluasi menyeluruh dan terobosan konkret bukan lagi pilihan. Ini kebutuhan mendesak, demi mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan," pungkasnya.

Sebelumnya, pada Senin 23 Februari 2026, dua unit bus Transjakarta terlibat tabrakan hebat di Koridor 13 Cipulir, Kebayoran Lama. Polisi menyebut salah satu pengemudi tertidur saat menyetir.

Kecelakaan melibatkan bus Transjakarta Bianglala (B 7136 SGA) yang dikemudikan Yayan, dan bus Mayasari Bhakti (B 7353 TGC) dengan pengemudi Arfan Sukoco.

Akibatnya, 24 penumpang mengalami luka-luka. Mereka dirawat di RS Sari Asih Ciledug dan Bakti Mulya Slipi. Dua orang di antaranya menderita patah tulang.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan insiden ini disebabkan kelalaian sopir yang mengalami microsleep. Kondisi itu membuatnya melintas ke jalur lawan arah. Diduga, kurang tidur membuat sang sopir kelelahan saat bekerja.

Dalam insiden ini, Pemprov DKI tak hanya akan memberi sanksi ke pengemudi. Pramono menegaskan operator juga harus bertanggung jawab penuh atas pembinaan dan pengawasan terhadap para pramudinya.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar