Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Mereka mencerminkan optimisme dan kepercayaan yang kembali menguat terhadap pariwisata Indonesia.
Di sisi lain, pengakuan dari luar negeri juga ikut menguatkan posisi kita. Dua desa wisata, Pemuteran dan Osing Kemiren, dapat penghargaan dari UN Tourism. Tak ketinggalan, 33 hotel dan resor di dalam negeri berhasil meraih MICHELIN Keys. Ini sinyal jelas bahwa kualitas layanan dan pengalaman menginap di Indonesia mulai diakui standar global.
“Tahun 2026, fokus kami adalah kualitas dan daya saing,” ucap Ni Luh mengenai target ke depan.
“Kami proyeksikan kunjungan wisman bisa mencapai 16 hingga 17,6 juta.”
Namun begitu, ia menegaskan bahwa target itu mustahil tercapai sendirian. Kolaborasi kuat antar semua pemangku kepentingan adalah kuncinya. Forum STDev Circle dinilainya strategis karena mempertemukan banyak pihak: mulai dari pembuat kebijakan, pelaku usaha, akademisi, komunitas, sampai anak muda.
Dalam forum itu, dibahas pula soal pendanaan hijau (green financing), inovasi teknologi, peran komunitas, serta kontribusi kampus. Tujuannya satu: membangun ekosistem pariwisata berkelanjutan yang benar-benar terintegrasi. Sinergi lintas sektor inilah yang diharapkan bisa menjamin bahwa pertumbuhan pariwisata tak mengorbankan lingkungan dan justru meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Saya berharap forum ini jadi awal kolaborasi nyata,” tutup Ni Luh.
“Kita perlu aksi konkret untuk mewujudkan pariwisata yang inklusif, adil, dan tentu saja, berkelanjutan.”
Editor: Redaksi TVRINews
Artikel Terkait
Gus Ipul: Penerima Bansos Mulai Dialihkan Jadi Anggota Koperasi Desa
Pemerintah Genjot Pembangunan Huntap Korban Bencana Sumatera Melalui Skema Gotong Royong
AS Kerahkan Dua Kapal Induk ke Timur Tengah, Ketegangan dengan Iran Meningkat
Gubernur Jateng Akui Darurat Sampah Meski Raih Penghargaan Nasional