Protes serupa sebelumnya viral dari seorang guru SD di Palu, Sulawesi Tengah. Lewat sebuah video, sang guru menyayangkan menu yang diterima anak didiknya. Merespons hal ini, Wakil Gubernur Sulteng, Reny A Lamadjido, turun langsung berkoordinasi dengan pengelola dapur MBG.
“Saya mengapresiasi ibu guru. Kepedulian beliau patut kita hargai,” kata Reny. Dia menegaskan, perhatian ini penting agar anak-anak benar-benar mendapat asupan gizi yang sesuai.
Klaim dan Bantahan dari BGN
Lantas, bagaimana tanggapan pihak berwenang? Badan Gizi Nasional akhirnya buka suara. Mereka membantah anggaran bahan makanan MBG selama Ramadan sebesar Rp 15 ribu per porsi.
“Kami ingatkan kembali,” kata Nanik S Deyang, Wakil Kepala Badan Bidang Komunikasi dan Investigasi BGN. Menurutnya, anggaran untuk bahan makanannya memang ditetapkan antara Rp 8.000 hingga Rp 10.000, tergantung kelompok penerima.
Untuk balita hingga siswa kelas 3 SD, anggarannya Rp 8.000 per porsi. Sementara untuk anak kelas 4 SD ke atas hingga ibu menyusui, nilainya Rp 10.000. Anggaran total yang lebih besar, yakni Rp 13 ribu atau Rp 15 ribu, sudah mencakup biaya operasional dan insentif mitra pelaksana. Jadi, bukan semata-mata untuk belanja bahan baku.
Namun begitu, penjelasan ini tampaknya belum sepenuhnya meredam kekecewaan. Di lapangan, kesan “kurang” itu masih terasa. Dan desakan untuk pengawasan yang lebih ketat terus bergema.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Disambut Hangat Diaspora dan Mahasiswa Indonesia di Abu Dhabi
Persib Pertahankan Rekor Tak Terkalahkan di GBLA Saat Hadapi Madura United
Pemkab Bogor Siapkan 55 Bus Gratis untuk Mudik Lebaran dari Stadion Pakansari
Ledakan Bahan Peledak di Fasilitas Dekat Zurich Lukai Dua Orang