Namun begitu, realitas di lapangan masih berlarut. Dalam sidang rutin Dispute Settlement Body WTO akhir Januari 2026 kemarin, Uni Eropa sendiri melaporkan bahwa penyesuaian kebijakan mereka belum tuntas. Laporan itu sekaligus mengonfirmasi kekhawatiran Indonesia.
Menyikapi hal ini, pemerintah mengaku sudah menyiapkan beberapa skenario. Opsi-opsi itu akan dijalankan jika UE ternyata belum juga menunjukkan kepatuhan penuh. Diskusi intensif juga terus dilakukan untuk memastikan kesiapan dari sisi hukum dan teknis. Pendekatan ini, menurut Budi, mencerminkan komitmen Indonesia melindungi kepentingan nasional. Di sisi lain, juga untuk menjaga akses pasar sawit ke Eropa dalam jangka panjang.
Koordinasi dengan pelaku usaha dan asosiasi terkait akan diperketat. Tujuannya agar penanganan kasus ini efektif dan memberikan kepastian bagi industri sawit nasional yang melibatkan jutaan petani.
"Indonesia mendukung agenda keberlanjutan dan transisi energi global," imbuh Budi.
Tapi, tegasnya, kebijakan keberlanjutan tidak boleh dijadikan alat untuk menerapkan langkah-langkah yang justru melanggar prinsip nondiskriminasi dalam perdagangan multilateral. Itu garis merahnya.
Artikel Terkait
Perundingan Nuklir AS-Iran di Pakistan Gagal Lagi, Vance Soroti Penolakan Komitmen Jangka Panjang
Harga Emas Pegadaian Stagnan, UBS dan Galeri 24 Tak Berubah
Perundingan AS-Iran di Islamabad Buntu, Kedua Pihak Pulang Tanpa Kesepakatan
Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo Diamankan KPK dalam OTT