Gubernur NTB Ingatkan Pentingnya Pengamanan Ekstra di Titik Rawan Saat Ramadhan

- Rabu, 25 Februari 2026 | 07:15 WIB
Gubernur NTB Ingatkan Pentingnya Pengamanan Ekstra di Titik Rawan Saat Ramadhan

Menjelang azan magrib berkumandang, suasana Kota Mataram berubah total. Jalanan yang tadi lengang mendadak riuh. Deru motor saling sikut, warga berdesakan di pinggir jalan berebut takjil. Di masjid-masjid, saf shalat mulai mengisi pelataran. Ramadhan memang membawa denyut nadi kota ini berdetak lebih kencang.

Namun, di balik kemeriahan itu, ada pekerjaan rumah yang tak pernah usai: menjaga keamanan. Apalagi di titik-titik yang rawan.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, baru-baru ini mengingatkan hal itu. Dalam apel siaga Kamtibmas Ramadhan di Polda NTB, ia menekankan pentingnya pengamanan ekstra di pusat keramaian. Pasar, terminal, tempat ibadah, lokasi aktivitas malam semua perlu diperketat.

Pesan yang sederhana, tapi selalu relevan. Sebab Ramadhan bukan cuma soal spiritualitas. Mobilitas warga melonjak, interaksi sosial meningkat signifikan.

Lihat saja pola yang terulang tiap tahun. Pekan pertama Ramadhan 1447 H ini sudah memperlihatkan gejala klasik: kemacetan parah jelang buka puasa, patroli malam untuk mengantisipasi balap liar, sampai razia remaja yang terlibat judi panco. Di Pagutan, Polresta Mataram bahkan mengamankan 14 remaja dalam satu operasi. Tujuh motor juga disita.

Fakta-fakta itu menunjukkan sesuatu. Titik rawan selama bulan puasa ternyata bukan cuma lokasi fisik. Ia juga adalah ruang sosial yang kompleks.

Kemacetan dan Keterburu-buruan

Memang, Ramadhan selalu identik dengan pergerakan massa. Pasar tradisional ramai sejak pagi, memuncak nyaris chaos di sore hari. Terminal dan persimpangan jadi pusat kemacetan.

Berdasarkan pemetaan Satlantas Polresta Mataram, puncak kepadatan lalu lintas terjadi satu sampai dua jam sebelum waktu berbuka. Nah, di jam-jam krusial inilah risiko kecelakaan melonjak.

Soalnya, kerawanan ini bukan cuma persoalan disiplin. Ada faktor psikologis yang main. Pengendara yang lapar dan dahaga, ingin cepat sampai rumah, seringnya ngebut dan ugal-ugalan. Keselamatan jadi nomor sekian.

Langkah penempatan personel di titik macet patut diapresiasi. Tapi pendekatan represif saja jelas tak memadai.

Perlu ada rekayasa sosial yang lebih kreatif. Misalnya, mengatur ulang jam operasional pasar tertentu, menyediakan lahan parkir dadakan di sekitar pusat takjil, atau gencar kampanye publik soal etika berkendara saat puasa. Pemerintah daerah bisa membanjiri media sosial dengan edukasi ringan tapi rutin. Ini bagian dari pelayanan publik yang mencerahkan.

Selain siang hari, malam juga punya tantangannya sendiri. Patroli aparat kerap menemukan remaja nongkrong hingga dini hari. Aktivitas mereka beragam, dari perang petasan, adu panco yang berujung taruhan, sampai balap liar.

Ini bukan cuma gangguan ketertiban. Potensinya bisa berkembang ke tindak kriminal yang lebih serius.

Di sinilah peran keluarga jadi kunci. Aparat bisa menertibkan, tapi pengawasan paling efektif ya dari rumah. Orang tua harus sadar, Ramadhan bukan alasan buat membiarkan anak remaja keluyuran malam tanpa kontrol, dengan dalih "nunggu sahur".

Energi Muda yang Mencari Saluran

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar