"Ini menurut saya peluang yang cukup baik," ujar Agus.
Sudah ada instruksi konkret dari sang menteri. Dia meminta para kalapas membangun jejaring dengan pengusaha pangan lokal. Tujuannya dua arah: pengusaha dapat pasar tetap untuk menyuplai bahan makanan ke lapas, dan ekonomi daerah bisa ikut bergerak.
Aturannya juga sudah ditetapkan. Vendor yang menyuplai lapas wajib menyerap minimal 5 persen hasil pertanian dari kegiatan narapidana. "Karena target marketnya kan ada," terang Agus.
Dia membeberkan logika pasarnya. Kebutuhan bahan makanan untuk narapidana dan program MBG itu pasar yang jelas. Belum lagi jika hasilnya berlebih. "Bisa buat suplai ke luar lapas. Sekarang saja ada lebih dari 20 ribu titik SPPG di Indonesia. Ini potensi pasar yang sangat besar," tambahnya dengan semangat.
Intinya, program ini dirancang agar semua pihak diuntungkan. Mulai dari narapidana yang dibina, pengusaha lokal, hingga pegawai lapas sendiri yang bisa terlibat investasi.
"Kalau dioptimalkan dengan kolaborasi, kita bukan cuma mewujudkan ketahanan pangan," pungkas Agus. "Tapi juga bisa berkontribusi bagi kesejahteraan banyak pihak."
Artikel Terkait
Jepang Siapkan Pelepasan Cadangan Minyak Nasional pada Mei 2026
Dishub DKI Terapkan Rekayasa Lalu Lintas untuk Halal Bihalal di Kota Tua
Iran Setujui Gencatan Senjata Dua Pekan, Perundingan Damai dengan AS Segera Dimulai di Islamabad
Prabowo Mundur dari Ketua Umum IPSI Setelah 34 Tahun