Suara dari warga biasa menggambarkan suasana mencekam itu. Seorang penduduk Aguililla, Michoacán, yang enggan disebutkan namanya, bercerita tentang bunyi tembakan yang tak henti-henti.
Merespons eskalasi ini, Menteri Pertahanan Ricardo Trevilla mengumumkan pengiriman tambahan 2.500 personel ke Jalisco. Pasukan ini untuk memperkuat barisan yang sudah dikerahkan sebelumnya. Upaya pemulihan juga terlihat dengan dibongkarnya lebih dari 250 blokade jalan yang sempat didirikan kartel di 20 negara bagian sebuah bentuk protes dan intimidasi pasca-kematian pemimpin mereka.
Kematian El Mencho ini, jujur saja, terjadi saat Meksiko mendapat tekanan besar dari Amerika Serikat untuk bertindak lebih keras pada kartel narkoba. Tapi sejarah sudah sering membuktikan: menumbangkan seorang raja narkoba belum tentu mengakhiri bisnis haramnya. Malah, kekosongan kekuasaan itu justru sering memicu perebutan tahta yang lebih berdarah dan kacau.
Dampak kekerasan ini bahkan merambah ke sektor pariwisata. Penerbangan di Puerto Vallarta, Jalisco, sempat mengalami gangguan. Pemerintah Meksiko berharap layanan bisa normal kembali pada Senin atau Selasa. Sementara itu, Biro Urusan Konsuler AS menyebut gangguan di Puerto Vallarta lebih terkait ketersediaan awak pesawat, dan bandara lain masih beroperasi normal.
Merespons rumor yang beredar cepat di media sosial, Kedutaan Besar Meksiko di AS membantah keras isu serangan terhadap warga sipil di bandara Guadalajara. Mereka juga menampik kabar tentang turis AS yang disandera. Pihak kedutaan menegaskan, tidak ada indikasi gangguan keamanan di luar zona-zona konflik yang sudah diketahui publik. Semuanya, kata mereka, tetap terkendali.
Artikel Terkait
Empat Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Kembali Boleh Bermain di Belanda
Timnas Futsal Indonesia Hadapi Vietnam di Semifinal AFF 2026, Ulangi Final 2024?
Satpam di Surabaya Bobol TK Tempatnya Bekerja, Curi Rp43 Juta
Kebijakan WFH Jumat Berdampak, Arus Lalu Lintas Medan Turun 20 Persen