“Inflasi yang terjadi pada komoditas pangan di Sulsel biasanya memang paling besar pada kuartal I,” papar Rizki di Makassar, Senin (23/2/2026).
“Secara data rata-rata sejak 2021-2025, inflasi komoditas pangan pada kuartal pertama mencapai 4,76%, lebih tinggi dibanding kuartal lainnya.”
Lalu, apa yang bisa dilakukan? BI menekankan, antisipasi harus segera dirancang. Gerakan Pangan Murah (GPM) harus dijalankan secara masif dengan prinsip tepat: tepat lokasi, sasaran, waktu, dan komoditas. Fokusnya pada barang-barang penyumbang inflasi saat Ramadan-Lebaran dan yang harganya sering tembus HET, seperti beras, cabai, bawang merah, minyak goreng, telur, dan gula pasir.
Namun begitu, strategi jangka pendek saja tak cukup. Rizki menambahkan, perlu upaya penguatan sistem logistik. Misalnya dengan mengoptimalkan cold storage dan membangun pabrik es mini di pelabuhan strategis untuk menjaga kesegaran ikan.
“Begitu pun dengan penerapan teknologi ozon perlu dilakukan untuk memperpanjang umur simpan hortikultura,” tuturnya.
Intinya, ancamannya nyata. Jika tidak diantisipasi dari sekarang, lonjakan harga di awal 2026 bisa benar-benar terjadi dan memberatkan masyarakat.
Artikel Terkait
Komisi III DPR Apresiasi Pemecatan Oknum Brimob Pelaku Penganiayaan Siswa di Tual
Satu dari Delapan Buron Rutan Way Kanan Berhasil Ditangkap di Hutan
Gubernur Jateng Operasikan Loader di Pantai Batang, Soroti Darurat Sampah 6,36 Juta Ton
KONI NTT Targetkan 37 Emas PON 2028, Anggaran Rp250 Miliar Disiapkan