Setelah sidang kode etik yang melelahkan, berlangsung hampir empat belas jam, nasib Bripda Masias Siahaya akhirnya diputuskan. Anggota Brimob itu kini resmi diberhentikan dari Polri dan itu bukan pemberhentian dengan hormat. Keputusan ini menutup satu babak kelam terkait tewasnya Arianto Tawakal, seorang pelajar Madrasah Tsanawiyah di Tual.
Sidangnya sendiri digelar maraton. Dimulai Senin sore, 23 Februari, tepat pukul dua siang waktu setempat. Prosesnya berlarut-larut hingga dini hari, baru berakhir Selasa pagi pukul 03.46 WIT. Tiga belas jam lebih para penyidik internal Polri mengurai kasus penganiayaan yang berujung maut itu.
Menurut sejumlah saksi, kronologi awalnya adalah insiden yang seharusnya bisa ditangani tanpa kekerasan. Arianto, remaja yang masih duduk di bangku MTs, menjadi korban dari tindakan anggota yang seharusnya melindungi. Kini, setelah sidang panjang, konsekuensi bagi Masias sudah jelas: dia kehilangan statusnya sebagai anggota kepolisian.
Di sisi lain, keputusan ini tentu tak akan mengembalikan nyawa Arianto. Tapi setidaknya, proses hukum internal telah berjalan. Masyarakat menunggu langkah selanjutnya, apakah ada proses pidana yang menyusul. Yang pasti, kasus ini menjadi catatan kelam dan pengingat keras tentang batasan kewenangan.
Alfian Sanusi, Rayyan, Rijalul Vikry melaporkan.
Artikel Terkait
Real Sociedad dan Alaves Bermain Imbang 3-3 dalam Drama Injury Time
Adik Bupati Tulungagung yang Jadi Anggota DPRD Diamankan KPK sebagai Saksi
Imigrasi Bentuk Tim Khusus dan Fast Track untuk Permudah Atlet Asing
OJK Jabar Soroti Pentingnya Inovasi dan Jaringan untuk Dongkrak Inklusi Keuangan Syariah