Bayangkan, ekspornya saja menyentuh 48 miliar dolar AS. Di sisi lain, sektor ini juga jadi penopang hidup bagi jutaan orang. Data tahun 2025 mencatat, ada sekitar 6,7 juta tenaga kerja yang terserap. Kalau pasokan bahan baku utama macet, bisa-bisa rantai produksi ikut tersendat. Imbasnya? Daya saing kita di pasar global bisa terpengaruh. Itu risiko yang coba dihindari.
Namun begitu, pemerintah mengaku tak tutup mata dengan nasih petani jagung lokal. Kebijakan ini dirancang dengan hati-hati agar produksi jagung dalam negeri untuk pakan ternak dan konsumsi langsung tidak terusik oleh masuknya jagung impor spesifikasi khusus tadi. Mereka berjanji akan menjaga keseimbangan.
Jadi, skemanya jelas: impor untuk penopang industri besar, sementara pasar domestik tetap dilindungi. Langkah ini seperti berjalan di tali, mencari titik seimbang antara memenuhi kebutuhan industri dan melindungi kepentingan petani lokal.
Artikel Terkait
Tucker Carlson Sebut Perang Iran sebagai Blunder Terbesar Trump, Hubungan Memanas
2.019 ASN Lolos Seleksi Awal, Siap Jalani Latihan Dasar Militer 45 Hari
Iran Tantang Blokade AS di Selat Hormuz Usai Perundingan Damai Buntu
OPM Bakar Rumah Warga di Pogoma, TNI Intensifkan Patroli dan Buru Pelaku