Hubungan antara Donald Trump dan Tucker Carlson sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, bisa dibilang memanas. Pemicunya? Kritik pedas Carlson terhadap salah satu keputusan paling kontroversial Trump: perang melawan Iran.
Dalam sebuah wawancara dengan BBC, mantan bintang Fox News itu tak sungkan menyebut langkah Trump sebagai blunder terbesar kebijakan luar negeri AS sepanjang hidupnya. "Kesalahan tunggal terbesar yang dilakukan Trump, atau presiden Amerika mana pun di masa hidup saya, adalah berperang dengan Iran dalam upaya mengubah rezimnya," tegas Carlson.
Pernyataannya itu jelas bukan hal sepele. Apalagi datang dari sosok yang dulu dikenal sebagai sekutu dekat.
Ketika pembawa acara BBC, Laura Kuenssberg, menyinggung soal hubungan Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Carlson enggan menyederhanakannya. Tapi intinya, menurut dia, rezim Israel punya andil besar. "Saya tidak berpikir sesederhana bahwa 'dia berada di bawah kendali Netanyahu,'" ujarnya.
Namun begitu, Carlson melanjutkan, "Anda tentu bisa meringkasnya seperti itu dan Anda tidak akan sepenuhnya salah."
Ia menuding pejabat Israel aktif memanipulasi Amerika Serikat untuk terjun ke dalam konflik yang, menurutnya, sama sekali tidak menguntungkan Washington. Bahkan merugikan dunia. Carlson menyayangkan Trump yang, berbeda dengan pendahulunya, terlihat tak berdaya menolak tekanan tersebut.
Kritik ini bukan kali pertama. Sebelumnya di program Newsmax, Carlson juga menyatakan hal serupa dengan bahasa yang lebih keras. Ia menyebut Trump seperti "budak" bagi rezim Israel dan menggambarkan cara presiden menangani perang Iran sebagai sesuatu yang "sangat mengerikan untuk disaksikan."
Di sisi lain, Carlson mengaku masih menyukai Trump. Rasa kasihan justru yang muncul. Ia merasa sang presiden terjebak, tidak bisa membuat keputusan sendiri, dan terhimpit kekuatan dari luar.
Tanggapan Trump? Bisa ditebak. Sang presiden tak tinggal diam. Lewat unggahan di media sosial pada 9 April, ia mengejek Carlson dan kritikus pro-MAGA lainnya sebagai orang ber-IQ rendah yang cuma cari perhatian. Menurut Trump, pandangan mereka bertolak belakang dengan gerakan MAGA. Ia bahkan menyindir Carlson sebagai "pria yang hancur" setelah dipecat Fox News.
Perang dengan Iran sendiri memang jadi titik balik. Konflik yang pecah di tengah perundingan nuklir ini memicu gelombang penolakan, bahkan dari kalangan media yang biasanya mendukung Trump. Banyak yang mulai mempertanyakan, seberapa besar pengaruh lobi Zionis di Washington terhadap keputusan ini.
Carlson sendiri tak main-main. Ia menyebut ancaman Trump untuk menghancurkan infrastruktur sipil Iran di hari Minggu Paskah sebagai sebuah kejahatan. "Kejahatan perang dan kejahatan moral," katanya.
Tekanan bahkan datang dari dalam partai. Marjorie Taylor Greene, mantan anggota DPR dari Partai Republik, sampai menyerukan pencopotan Trump lewat Amandemen ke-25. Itu terjadi setelah presiden mengancam akan "memusnahkan sebuah peradaban" dalam postingannya tanggal 7 April.
Di lapangan, perang ini jelas tidak populer. Berbagai jajak pendapat menunjukkan publik AS menolak konflik ini. Biayanya sudah membengkak miliaran dolar. Tapi, tujuan strategisnya? Sampai sekarang, belum satu pun yang tercapai.
Semuanya berujung pada pertikaian publik yang tajam ini. Dua sekutu lama yang kini saling serang. Dan di tengahnya, ada sebuah perang yang konsekuensinya masih terus dirasakan.
Artikel Terkait
Prabowo dan Macron Sepakati Penguatan Kerja Sama Pertahanan hingga Energi Bersih di Paris
INDODAX Salurkan 15 Hewan Kurban untuk 584 Keluarga Terdampak Bencana di Aceh
Presiden Prabowo Disambut Upacara Kenegaraan di Les Invalides, Lanjutkan Pertemuan Bilateral dengan Macron di Istana Elysee
Esensi Ibadah Kurban: Dari Ujian Keikhlasan Habil dan Qabil hingga Perintah Syariat bagi yang Mampu