Inggris Tolak Dukung Rencana Blokade AS di Selat Hormuz

- Senin, 13 April 2026 | 11:50 WIB
Inggris Tolak Dukung Rencana Blokade AS di Selat Hormuz

Presiden AS Donald Trump membuat pernyataan keras lewat media sosial Truth Social, Minggu lalu. Isinya? Peringatan bahwa Angkatan Laut AS yang ia sebut terbaik di dunia akan mulai memblokade semua kapal yang berusaha melintasi Selat Hormuz. Tak main-main, ancamannya ditujukan ke Iran dan bahkan kapal pihak ketiga. "Akan dihancurkan," tulisnya singkat.

Namun begitu, rencana Washington itu tampaknya tak mendapat dukungan dari sekutu lamanya, Inggris. Menurut sejumlah sumber yang diwawancarai The Telegraph, Inggris enggan ikut serta dalam operasi blokade tersebut. Posisi London ini bukan kali pertama muncul.

Hubungan kedua negara memang sedang tidak hangat. Baru-baru ini, Perdana Menteri Keir Starmer bahkan menolak permintaan Trump untuk menggunakan pangkalan militer Inggris sebagai titik serang awal terhadap Iran. Ketegasan Starmer ini menuai kritik dari Trump, yang terus mendesak dukungan untuk operasi militernya.

Dalam sebuah wawancara dengan ITV pekan lalu, Starmer kembali menegaskan sikap independen negaranya.

“Saya tegaskan bahwa bagi Inggris, kami memiliki prinsip-prinsip kami sendiri, kami memiliki nilai-nilai kami sendiri. Kami akan berpedoman pada prinsip-prinsip tersebut dalam segala hal yang kami lakukan,” ujarnya tegas.

Ia juga secara halus mengkritik retorika Trump yang dinilai mengancam. “Itulah mengapa saya mengatakan dan jelas hal itu telah menimbulkan kritik dan tekanan dalam beberapa minggu terakhir saya telah mengatakan bahwa kami tidak akan terseret ke dalam perang ini.”

Di sisi lain, pemerintah Inggris sendiri telah merilis pernyataan resmi menanggapi ancaman blokade Trump. Intinya, mereka menyerukan kebebasan navigasi dan mendesak agar Selat Hormuz tetap terbuka. Sebuah posisi yang jelas berseberangan dengan langkah yang digagas Gedung Putih.

Jadi, meski tekanan dari Washington terus mengalir, London tampaknya bersikukuh pada jalurnya sendiri. Situasi di kawasan itu pun makin mencekam, menunggu langkah selanjutnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar