Delegasi Iran baru saja pulang dari Islamabad dengan tangan kosong. Perundingan damai dengan Amerika di Pakistan itu buntu, tak membuahkan kesepakatan. Tak lama setelah kegagalan itu, Presiden AS Donald Trump merespons dengan keras: dia memerintahkan blokade atas Selat Hormuz.
Reaksi Teheran? Sama kerasnya. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dengan tegas menyatakan negaranya tak akan gentar menghadapi ancaman semacam itu.
“Kalau mereka melawan, ya kami lawan. Tapi kalau mereka bawa argumen logis, kami hadapi dengan logika juga,” ujar Ghalibaf kepada awak media di Teheran.
Dia melanjutkan dengan nada menantang, “Kami tidak akan tunduk. Silakan coba lagi uji tekad kami, biar kami beri pelajaran yang lebih besar.” Pernyataan itu disampaikannya usai kembali dari Pakistan, seperti dilaporkan Al Arabiya awal pekan ini.
Di sisi lain, ancaman Trump itu justru ditertawakan oleh petinggi militer Iran. Kepala Angkatan Laut mereka, Shahram Irani, menyebutnya sebagai hal yang “konyol” dan “menggelikan”.
“Setiap gerakan militer Amerika yang agresif di kawasan ini diawasi ketat oleh prajurit pemberani kita. Ancaman untuk memblokade itu sangat tidak masuk akal,” tegas Irani dalam siaran televisi pemerintah.
Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga tak kalah bersuara. Mereka secara terpisah mengeluarkan peringatan keras. Menurut IRGC, Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali dan “pengelolaan cerdas” angkatan laut mereka.
Setiap kapal militer yang mendekati selat itu, mereka ancam, akan dianggap melanggar gencatan senjata yang baru berumur dua minggu. “Kami akan tindak tegas dan keras,” begitu bunyi pernyataan resmi mereka.
Meski begitu, IRGC menegaskan bahwa jalur air strategis itu tetap terbuka untuk lalu lintas kapal non-militer yang mematuhi aturan. Intinya, mereka yang bermasalah hanyalah kapal perang.
Latar belakang dari semua ketegangan ini adalah kemarahan Trump. Amarahnya meluap setelah Iran menolak melepas program nuklirnya, yang menjadi batu sandungan utama dalam perundingan damai yang panjang dan melelahkan di Pakistan itu. Kini, dunia kembali menahan napas menyaksikan dua kubu yang saling bersitegang di selat paling vital bagi pasokan minyak global tersebut.
Artikel Terkait
Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II di Biak Numfor Tewaskan Lima Warga, Tiga Lainnya Hilang
Menteri Haji Lepas Kloter Pertama Jemaah Haji Indonesia dari Jeddah, Sampaikan Permohonan Maaf
165 Personel dan 35 Unit Damkar Dikerahkan Padamkan Kebakaran di Kemayoran, Api Mulai Terkendali
Kebakaran Besar di Kemayoran Hanguskan Permukiman Padat, 33 Unit Damkar Dikerahkan