Senin pagi di kawasan Monas, suasana tampak berbeda. Sekitar dua ribu lebih Aparatur Sipil Negara (ASN) berkumpul, bersiap untuk sebuah babak baru. Kementerian Pertahanan baru saja melepas mereka untuk mengikuti seleksi Komponen Cadangan tahun 2026. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 2.019 orang dari puluhan kementerian dan lembaga.
Menurut laporan, awalnya ada 2.205 ASN yang diusulkan. Setelah melalui tahap pemeriksaan kesehatan, 2.115 orang mengikutinya. Dan dari jumlah itu, 96 orang dinyatakan tidak memenuhi syarat.
Brigjen Hengki Yuda Setiawan dari Pusat Komcad Bacatanas yang hadir dalam apel keberangkatan itu memberikan konfirmasi.
"Jumlah peserta yang mengikuti pemeriksaan kesehatan 2.115 orang dengan keterangan lulus ke seleksi selanjutnya 2.019 orang, tidak lulus 96 orang," ujarnya.
Nah, bagi yang lolos, perjalanan belum usai. Mereka justru akan menghadapi tahap yang lebih menantang: seleksi kompetensi. Tes jasmani, psikologi, hingga mental ideologi menunggu di enam lembaga pendidikan milik TNI dan Kemhan.
Pembagiannya tersebar. Rindam Jaya akan menerima 302 orang, sementara Pusdikes Puskesat menampung yang terbanyak, 505 peserta. Lembaga lain seperti Puskombelneg BPSDM Kemhan, Brigif 1 Pasmar 1, Pusbahasa Kodiklat AU, dan Wingdik 500 Atang Sanjaya masing-masing akan mendidik sekitar 300-an orang.
Lalu, apa yang akan mereka jalani?
Kepala Badan Cadangan Nasional, Letjen TNI Gabriel Lema, menjelaskan bahwa para ASN ini akan langsung dibenamkan dalam Latihan Dasar Militer atau Latsarmil. Durasi yang ditetapkan cukup intens: satu setengah bulan penuh, atau 45 hari. Rencananya, pembukaan latihan ini akan dipusatkan di Lanud Halim Perdanakusuma pada 22 April mendatang.
"Pendidikannya satu setengah bulan. Tahun ini total ada 4.000 ASN yang kita siapkan dalam dua gelombang," jelas Gabriel.
Selama satu setengah bulan itu, hidup mereka akan diisi dengan beragam materi. Tujuannya jelas: pembentukan karakter dan kedisiplinan ala militer. Mereka juga akan mendapat pengetahuan dasar kemiliteran, tak lupa pengetahuan tentang senjata dan latihan menembak tentu saja dalam batas-batas tertentu.
"Kurikulum sudah diatur, ada nuansa bersifat militer namun bersifat pengetahuan terbatas. Senjata juga demikian karena mereka pun nanti harus melaksanakan latihan menembak terbatas," tuturnya lagi.
Yang penting ditekankan, program ini sama sekali tidak bermaksud mengacaukan struktur birokrasi yang sudah ada. Setelah masa pendidikan usai, para ASN ini diharapkan kembali ke meja kerjanya masing-masing, menjalankan tugas pokok seperti biasa. Mereka pulang dengan bekal baru, siap didaftarkan sebagai komponen cadangan pertahanan negara.
Artikel Terkait
Persiapan Waisak 2570 BE di Borobudur Kian Matang, Rangkaian Ritual Suci hingga Atraksi 570 Drone Siap Meriahkan Puncak Perayaan
WNA Korea Selatan Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Rumahnya di Bekasi, Polisi Autopsi dan Koordinasi dengan Kedubes
Pria di Tangsel Alami Luka Bakar 80 Persen Usai Tuang Bensin ke Arang saat Bakar Daging Kurban
TB Hasanuddin: Tugas TNI Bukan Berantas Begal, Itu Wewenang Polri