Dukungan dan Peringatan dari Masyarakat Sipil
Dukungan kuat justru datang dari kaum muda. "Mereka yang tertarik pada sejarah sangat mendukung inisiatif ini," kata Asante. Meski bagi banyak orang topik ini masih terasa abstrak.
Tapi Asante juga memberi peringatan. Jangan sampai terlalu terpaku pada masa lalu. Generasi muda Ghana juga punya keinginan kuat untuk tata kelola pemerintahan yang baik hari ini. Keadilan historis itu penting, tapi yang lebih menentukan adalah bagaimana elit politik menggunakan kekuasaannya sekarang untuk membangun masa depan. Banyak masalah di Afrika, tuturnya, bersumber dari dalam negeri sendiri, bukan semata warisan kolonial.
Apakah Ini Kompetisi Kejahatan?
Mahama pernah menyatakan bahwa dalam sejarah modern, tak ada ketidakadilan yang lebih besar daripada perdagangan budak. Pernyataan itu memantik kritik. Beberapa pihak mempertanyakan, apakah itu berarti mengabaikan kejahatan seperti Holokaus?
Asante menolak perbandingan semacam itu. "Ini bukan soal membuat ranking kekejaman," tegasnya. Ini tentang mengakui perdagangan budak transatlantik apa adanya: sebuah praktik tak manusiawi dengan dampak global yang masif. Dampak lanjutannya adalah rasisme sistemik yang masih berakar hingga kini. Poin utamanya adalah pengakuan dan pembelajaran, agar teror serupa tak terulang lagi.
Tanggung Jawab yang Juga Ada di Pundak Afrika
Mahama menekankan, kebenaran sejarah harus "diceritakan secara utuh". Kritikus pun menyoroti sisi lain dari kebenaran itu: fakta bahwa sebagian elit Afrika, pedagang, dan kerajaan ikut menjadi perantara dalam perdagangan ini. Sejarawan menyebut, banyak dari orang yang ditangkap itu sudah diperbudak oleh sesama orang Afrika sebelum dijual ke pedagang Eropa.
Asante mengakui hal itu. "Bentuk-bentuk perbudakan sudah ada dalam masyarakat Afrika sebelum era transatlantik," katanya. Aspek kelam dalam sejarah lokal ini juga bagian dari kebenaran yang harus diakui, karena punya dampak sosial dan ekonomi tersendiri.
Mengapa Fokus ke "Transatlantik"?
Memang, perdagangan budak transatlantik bukan satu-satunya. Tapi menurut Asante, skalanya dan dampaknya yang paling besar. Konsekuensi ekonominya mengubah peta global, dan warisannya masih membentuk tatanan dunia sampai sekarang.
Meski demikian, pakar HAM ini kembali mengingatkan. Seberapa pun pentingnya meninjau ulang sejarah, para pemimpin Afrika punya tantangan besar di masa kini dan depan. Tanggung jawab untuk pembangunan dan tata kelola yang baik, kini ada di tangan mereka.
Artikel ini diadaptasi dari bahasa aslinya.
Artikel Terkait
Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.030 per Dolar AS di Awal Perdagangan
Gempa Magnitudo 3,8 Guncang Larantuka Dini Hari, Tidak Ada Laporan Kerusakan
Pabrik Melamin Rp10,2 Triliun, Terbesar di Indonesia, Dibangun di KEK Gresik
Benda Mirip Torpedo di Gili Trawangan Ternyata Alat Penelitian Laut