Komitmen pada Kualitas dan Kesejahteraan Bersama
Panitia tidak menerapkan seleksi ketat, namun memiliki komitmen kuat terhadap kualitas produk dan kesejahteraan bersama. Marjuki menegaskan pentingnya menjaga standar dagangan.
"Kami tidak terlalu seleksi, yang penting dia mau mengikuti arahan seperti bayar iuran mulai dari Rp35 ribu per hari dan memastikan tidak menjual dagangan yang menggunakan pemanis, pewarna, dan pengawet. Ini kami laksanakan demi mensejahterakan UMKM," ungkapnya.
Selain kebijakan tersebut, daya tarik utama pasar ini terletak pada kuliner khasnya. Salah satu yang paling dicari adalah sate susu, olahan berbahan daging sapi yang hanya muncul saat Ramadan.
Dayat Tarik yang Melampaui Agama
Keunikan kuliner dan atmosfer inilah yang menarik pengunjung dari berbagai latar belakang, termasuk mereka yang tidak menjalankan ibadah puasa. Seperti yang diungkapkan Kadek Yudia, warga lokal non-Muslim yang telah menjadi pengunjung setempat.
"Tahun lalu juga ke sini. Saya tidak puasa jadi ini beli sate susu, gorengan, dan jajanan manis buat di rumah saja nanti makan. Harganya juga tidak terlalu mahal, sekalian rekam-rekam situasi untuk buat konten," ucapnya.
Cerita Kadek merefleksikan fungsi lain dari Pasar Ramadan ini: sebagai ruang pertemuan sosial dan budaya. Di tengah hiruk-pikuk Denpasar, Kampung Muslim Wanasari hadir tidak hanya sebagai pusat kuliner, tetapi juga sebagai simbol kerukunan dan keberagaman yang hidup di Pulau Dewata.
Artikel Terkait
Bangka Belitung Terapkan WFH untuk ASN, Layanan Publik Tetap Berjalan
Wisatawan Tewas Hanyut di Air Terjun Tibu Ijo Lombok Barat
Kim Geonwoo ALPHA DRIVE ONE Hiatus, Grup Lanjut Promosi dengan Tujuh Anggota
Bigmo Minta Maaf Langsung kepada Azizah Salsha, Akhiri Konflik Hukum