Kepadatan arus penyeberangan di lintas Ketapang-Gilimanuk sudah jadi persoalan klasik. Setiap libur panjang atau hari raya, antrean kendaraan membludak, membuat perjalanan singkat itu bisa makan waktu berjam-jam. Nah, untuk mengurai kemacetan itu, Kementerian Perhubungan kini serius mendorong percepatan perluasan Pelabuhan Celukan Bawang di Buleleng, Bali Utara.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi tak menampik bahwa kapasitas pelabuhan dan infrastruktur jalan yang ada saat ini sudah kelebihan beban. “Ke depan kita tidak bisa lagi menyatukan seluruh arus kendaraan di satu titik,” tegasnya.
“Perlu ada pelabuhan alternatif agar beban bisa terbagi,” ujarnya dalam rapat bersama Komisi V DPR RI, Rabu (8/4/2026).
Intinya, semua teluk dan pelabuhan yang potensial harus dimaksimalkan fungsinya. Celukan Bawang, yang saat ini sudah dikelola PT Pelindo dan melayani kapal domestik-internasional, jadi salah satu fokus utama. Rencananya, pelabuhan ini akan dikuatkan dengan penambahan panjang dermaga dan tentu saja peningkatan kapasitas layanannya.
Untuk tahap awal, Dermaga 1 akan ditambah sekitar 92 meter. Nantinya, dermaga ini akan difokuskan untuk melayani kapal curah cair. Sedangkan Dermaga 2 rencananya bakal dikembangkan jadi dermaga serba guna. Dengan tambahan panjang sekitar 60 meter, dermaga ini diharapkan bisa menampung penumpang, barang umum, hingga curah kering.
Namun begitu, upaya ini bukan cuma tentang satu pelabuhan. Pemerintah punya visi yang lebih luas. Di sisi lain, Kemenhub juga mendorong pengembangan titik-titik lain di Bali, seperti Sangsit, Amed, dan Gunaksa. Tujuannya jelas: menciptakan sistem penyeberangan yang lebih terdistribusi, mirip dengan pola yang sudah berjalan di lintas Merak-Bakauheni. Dengan begitu, tekanan ke Gilimanuk dan Ketapang bisa berkurang signifikan.
Sementara untuk solusi jangka pendek, pemerintah tak tinggal diam. Penataan di Pelabuhan Ketapang akan segera dilakukan, termasuk menambah dermaga. Opsi membuka pelabuhan alternatif di sekitar wilayah Gilimanuk juga sedang dikaji. Langkah-langkah ini diharapkan bisa segera meredakan kepadatan, setidaknya untuk beberapa tahun ke depan.
Jadi, mulai dari percepatan proyek fisik hingga kajian pembukaan titik baru, semuanya digeber. Harapannya, arus mudik dan pariwisata di Bali bisa lebih lancar, tanpa lagi dibayangi antrean panjang yang melelahkan.
Artikel Terkait
Pembangunan 93 Sekolah Rakyat Permanen Ditargetkan Rampung Juni 2026, Siap Digunakan Tahun Ajaran Baru
Fabregas Tegas Tolak Kepulangan Nico Paz ke Real Madrid
Pemerintah Pastikan Harga Beras SPHP Tidak Naik Meski Dolar Menguat
Ledakan Petasan di Balon Udara Blitar Tewaskan Pemuda, Lukai Dua Anak